[caption id="attachment_18228" align="aligncenter" width="711"]
ilustrasi
(foto: PeopleOnline)[/caption]
kabargolkar.com - Perkembangan penggunaan internet di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya. Generasi muda masa kini menjadi pengguna utama internet. Kehadiran internet ini memiliki dampak positif. Antara lain semakin terbangunnya konektivitas dan mudahnya penyampaian informasi. Selain itu menumbuhkan kreativitas penggunanya. Internet juga meningkatkan pertumbuhan e-commerce.
Tapi selain dampak positif, d isaat yang sama juga memberi dampak negatif. Jumlah pengguna internet yang sangat besar jumlahnya ikut mendorong peningkatan radikalisme digital, mengembangkan jaringan kejahatan dan teroris secara online, semakin menyebarnya berita hoaks, ujaran kebencian (hate speech) serta cyberbullying.
Hal-hal negatif ini kian terasa di tahun politik. Begitu banyak berita fitnah, serta informasi hoaks yang bertebaran di dunia maya. Penyebarannya banyak tersebar melalui platform media sosial seperti twitter, facebook, instagram, ataupun aplikasi pesan instan seperti whatsapp, telegram, line. Termasuk juga situs media online, blog, maupun melalui surat elektronik.
Hoaks kian mengkhawatirkan
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mengungkap data terkait hoaks dan konten negatif. Secara keseluruhan, ada sejumlah 1.531.947 konten negatif masuk dalam penanganan Kemkominfo. Sumber pengaduan konten berdasarkan pelaporan masyarakat dan juga penelurusan menggunakan AIS, mesin pencari milik Kemkominfo. Mesin sensor internet milik Kemkominfo ini bernilai Rp 200 miliar. Sejak 28 Desember 2018 kemarin, mesin yang dibangun PT INTI ini siap menghalau konten-konten negatif yang kian merajalela penyebarannya di dunia maya.
Konten hoaks dan negatif paling banyak terdapat di twitter, dengan jumlah pelaporan sebanyak 531.304. Facebook dan Instagram menempati urutan dua, dilaporkan sebanyak 11.740 kali. Di urutan berikutnya, Youtube dan Google dilaporkan sebanyak 3.287 kali.
Kemkominfo juga menaruh perhatian pada aplikasi layanan pesan instan. Tercatat, telegram paling banyak dilaporkan melalui kanal aduan konten sebanyak 614 laporan. Urutan berikutnya ditempati LINE dan BBM dengan masing-masing 19 dan 10 kali.
Berkarya nyata dengan ikut mencegah penyebarannya
Hoaks dan konten negatif ini berbahaya, karena dapat mengurangi kepercayaan publik. Apalagi di tahun politik , hal-hal tersebut akan semakin bertebaran di masyarakat, terutama jelang hari pencoblosan tanggal 17 April 2019. Tidak ada lagi rasa percaya, yang dengan sendirinya, publik akan mempertanyakan kualitas Pemilu 2019, baik Pileg atau pun Pilpres. Akibat lainnya akan menimbulkan perpecahan serta konflik sosial.
[caption id="attachment_18229" align="aligncenter" width="800"]
kabargolkar.com[/caption]
Oleh karena itu, mari kita ikut berkarya nyata dengan membantu pencegahan hoaks serta konten negatif.
Pertama, berhati-hati dengan judul yang sifatnya provokatif. Seringkali judul sensasional menjadi sarana untuk memancing emosi. Baca dan cermati isinya sebelum menyebar berita yang sudah diterima.
Kemudian, cermati sumber pembuat berita. Biasanya berita fitnah dan kebohongan memiliki sumber yang tidak jelas. Atau bisa jadi mengambil dari media resmi, namun diubah sesuai keinginan sang pembuat hoaks ini.
Selanjutnya, cari berita pembanding. Jangan hanya mengandalkan satu sumber berita saja. Bandingkan dengan berita yang berasal dari sumber lain. Amati perbedaan ataupun persamaannya