[caption id="attachment_16317" align="aligncenter" width="810"]
Felix Pullu[/caption]
kabargolkar.com, KUPANG - Golkar masa Orde Baru adalah cerita kejayaan sebuah partai karena memang memiliki berbagai kekuatan pendukungnya. Struktur partai terbentuk dan aktif sampai tingkat desa/kelurahan, bahkan rukun tetangga atau RT. Rentangan struktur itu memudahkan pelaksanaan kegiatan konsolidasi secara cepat. Juga, tidak sulit mendapatkan kader berkualitas unggul serta biaya politik karena pegawai negeri sipil (PNS) atau aparat sipil negara (ASN) bersama militer satu langkah menyokong Golkar. Ibarat rumah yang mengandalkan tiga tiang sebagai penopang utamanya, bangunan partai tentu saja menjadi kuat bahkan sangat kokoh. Muaranya, Golkar dari pemilu ke pemilu selalu keluar sebagai pemenang dengan dukungan suara di atas 80 persen.
Cerita kejayaan itu sudah menjadi kisah masa lalu. Golkar pascareformasi, sebagaimana dilukiskan Felix Pullu, mengalami turbulensi berat. Ibarat ayam, dua sayapnya patah karena ASN dan juga militer harus menarik dukungannya. Dengan demikian, Golkar jadi single fighter, harus berjuang sendiri. Kondisinya pun bertambah runyam karena Golkar masih harus menghadapi berbagai persoalan pelik di lingkungan internalnya, disertai munculnya partai-parta baru.
Seperti juga pernah dilukiskan Ketua Golkar NTT, Melki Laka Lena, partai ini – terutama selepas masa Orde Baru – Golkar berkali-kali harus menghadapi badai hingga nyaris tumbang. Namun syukurlah. Apa pun tantangannya, Golkar tetap bertahan. Faktanya, Golkar tetap bercokol di tangga atas bersama PDI Perjuangan dan beberapa partai lainnya.
Meski begitu – lanjut Felix Pullu – kekuatan Golkar belum pulih. Kondisinya masih jauh dari kejayaan yang dicapai selama era Orde Baru. “Golkar membutuhkan energi baru untuk memulihkan kondisinya,” kata Felix Pullu, politisi lentur, yang ketika diwawancarai tim buku, Senin (3/12/2018), berusia 77 tahun.
Felix Pullu yang bergelar BA pendidikan dari IKIP Sanatha Dharma Yogayakarta (1969) dan Sarjana Hukum Undana Kupang (1984), adalah sesepuh Golkar NTT. Jejak politiknya berawal dari Partai Katolik Ngada. Posisinya sempat menjadi pelaksana tugas ketua selama hampir dua tahun (1969 – 1970), sesaat setelah ketuanya, Jan Jos Botha terpilih dan dilantik menjadi Bupati Ngada.
Menyongsong Pemilu 1971, Felix Pullu menjadi caleg Partai Katolik untuk DPR RI dari daerah pemilihan Ngada. Namun karena dirinya sudah berstatus pegawai negeri sipil, maka pencalonannya dibatalkan dan ia pun resmi bergabung dengan Golkar sejak tahun 1970. Pria kelahiran Lokolado, Ngada, 18 Januari 1941 itu, lalu dipercayakan sebagai Ketua Kelompok Karya Golkar atau Pokar (AMPI sekarang) Ngada. Pilihannya bersama Golkar bertambah menguat setelah menikah dengan Raymunda To Wea. Raymunda yang jebolan APDN Kupang (1976), adalah kader “kuning”. Ibu empat anak itu pernah dua periode menjadi anggota DPRD Ngada (1971-1982). Raymunda bahkan pernah menjadi Ketua Fraksi Golkar Ngada, selama kurang lebih tujuh tahun.
Bersama “beringin” dan langsung di DPD Golkar NTT, Felix Pullu terpilih menjadi anggota DPRD NTT selama empat periode, sejak 1977. Selama periode kedua dan ketiga, posisinya sebagai Wakil Ketua DPRD NTT