
Demikian pandangan yang mengemuka pada diskusi terbatas SOKSI yang bertajuk: "Refleksi dan Proyeksi Perjalanan Bangsa" yang berlangsung di Jakarta. Rabu (26/12/2018).
Dipandu oleh Prof. Thomas Suyatno. Ahmadi Noor Supit, pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kondisi politik dan perekonomian global dewasa ini sesungguhnya menjadi tantangan dan peluang tersendiri bagi bangsa Indonesia. Akhir-akhir ini banyak pengusaha yang hendak memindahkan pabriknya dari Cina guna menghindari tingginya biaya masuk barang dari Cina ke Amerika. “Kita harus mampu memanfaatkan situasi ini sehingga optimal positif bagi perekonomian kita”, tandasnya. Untuk itu, lanjut Supit, di samping cepat dan cekatan mengambil peluang di pasaran global, kita juga harus mampu membangun iklim berinvestasi dan iklim ketenagakerjaan yang kondusif.
Ujian Demokrasi
Tak dapat dipungkiri bahwa fenomena semakin menonjolnya segregasi di tengah masyarakat menjelang Pilpres dan Pileg di tahun politik ini menjadi tantangan dan ujian sendiri bagi ketahanan demokrasi dan keutuhan NKRI.
Posisi Pilpres yang berbarengan dengan Pileg dan pemilihan DPD saat ini memang terasa unik karena kedua Capres berada dalam situasi "to be or not to be". Jokowi berada dalam posisi harus menuntaskan program dan rencana rencana besarnya tentang peletakan dasar menuju masyarakat adil makmur, sementara Prabowo bisa dikatakan bahwa kesempatan ini sebagai peluang terakhir untuk merebut posisi penentu arah pembangunan.
Prof. Thomas Suyatno memprediksi tantangan di tahun 2019 akan lebih berat dibanding tahun 2014 atau tahun penyelenggaraan pesta demokrasi sebelumnya. Karena untuk pertama kalinya di tahun 2019 Pilpres dan Pileg akan dilaksanakan secara serentak. Dari sisi teknis, tentu kinerja penyelenggara akan lebih berat menghadapi dua pemilihan sekaligus. Demikian juga dalam mekanisme kontrol atau pengawasan, akan membutuhkan usaha serta konsentrasi lebih tinggi.