Dalam kunjungannya di dua desa di Cilacap, Jumat (22/2), Caleg Partai Golkar, Wirendra Tjakrawerdaya tengah membagi tips bagaimana membuat pupuk alami atau pupuk hayati tanpa merusak kesuburan tanah.[/caption]
kabargolkar.com, CILACAP -- Politisi Partai Golkar, Wirendra Tjakrawerdaya terus mengajak para petani untuk lebih kreatif dalam memangkas biaya produksi. Dalam kunjungannya di dua desa di Cilacap, Jumat (22/2), Wirendra membagi tips bagaimana membuat pupuk alami atau pupuk hayati tanpa merusak kesuburan tanah.
Berbekal bonggol pisang, Caleg DPR RI Dapil Jawa Tengah VIII itu memberi pelatihan dan penyuluhan di Desa Tritih Lor dan Desa Kalisabuk, Cilacap.
Di hadapan para petani, Wirendra mempraktekkan cara membuat pupuk hayati majemuk dengan bahan-bahan murah dan ada di sekitar petani.
Wirendra menggabungkan bahan-bahan seperti bonggol pisang, air bekas cucian beras serta sedikit gula merah. Bahan-bahan tersebut diproses dan difermentasikan selama 15 hari. Setelah itu beberapa jenis bakteri akan hidup dan berkembang biak di dalam tanah.
"Bakteri inilah yang akan menghasilkan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman seperti NPK termasuk adanya bakteri pengurai dan bakteri penghasil zat perangsang tumbuh," kata Wirendra di hadapan para petani.
Menurutnya, dengan menggunakan pupuk hayati tersebut petani dapat mengoptimalkan hasil panen. Selain itu memangkas biaya produksi, tanah jadi subur dan beras lebih sehat konsumsi.
Dijelaskan Wirendra, kondisi petani padi saat ini masih menggunakan dosis pupuk kimia dan pestisida yang salah kaprah. Banyak petani yang berfikir bahwa jika pupuk diberikan semakin banyak maka hasil panen akan semakin meningkat.
Pemikiran tersebut disebutnya keliru. Pemakaian pupuk yang berlebih bukan saja merusak tanaman dan meracuni tanaman tapi juga akan membuat tanah semakin rusak kesuburannya.
Hal itulah yang menggerakkan Wirendra untuk mengkampanyekan sebuah metode bertani dengan biaya murah.
"Yang perlu dibangun dari para petani saat ini adalah bagaiman caranya agar SDM dan keterampilan petani bisa dibangun terutama dalam hal kemampuan petani untuk menyuburkan tanah dan petani mampu membuat pupuk hayati majemuk," imbuhnya.
Saat ini Wirendra berpendapat kondisi mikroba tanah saat ini relatif sudah punah lantaran dampak penggunaan pupuk dan pestisida yang kadang tidak sesuai dengan aturan dan dosis yang dianjurkan.
Harapan pelatihan dan penyuluhan yang sudah dilakukan di beberapa Desa di Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap tersebut adalah agar para petani dalam bertani bisa menekan biaya pupuk, mengurangi bahkan tidak mengaplikasikan racun ke dalam sawah.
"Jika tanah subur maka biaya petani untuk membeli pupuk kimia dan pestisida bisa ditekan hingga sampai 50% dan yang terutama beras lebih sehat dan petani bisa lebih sejahtera," tandas Wirendra. [RMOLJateng]