[caption id="attachment_21313" align="alignnone" width="800"]

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar periode 2009-2014 Akbar Tandjung (kedua kiri) bersama anggota Wantim Golkar 2009-2014 Mahadi Sinambela (kiri), Ibrahim Ambong (kedua kanan) dan Anwar Arifin (kanan). [foto: dok. Antara][/caption]Pagi itu Jum’at tanggal 1 Maret 2019, ketika umat muslim bersiap-siap menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat Jum’at, istriku Desi memberitahu berita yang masuk ke WA bahwa Mahadi Sinambela telah menghembuskan nafasnya yang terakhir di RS Gatot Subroto.
Kendati saya sudah mengetahui cukup lama ia menderita sakit akibat stroke, namun tetap saja saya terkejut mendengar berita ini. Masih terbayang pertemuan kami pada peringatan hari lahir HMI, tanggal 5 Februari lalu di rumah bang Akbar Tandjung.
Tidak seperti biasanya bang Akbar kali ini mengajak berfoto bersama. Dan tidak dinyana ternyata inilah kali terakhir kami bersama Mahadi.
Sepeninggalnya kenangan apakah yang tersisa dari almarhum?
Kalau kita menyebut nama Mahadi Sinambela maka terbayanglah seorang laki-laki tinggi besar dengan suara baritonnya. Kendati wajahnya tampak keras namun di balik senyumnya tampak wajah yang tulus yang sering diselingi nada humor. Kesan berikutnya yang menonjol adalah penampilannya yang sederhana, baik dari cara berpakaian maupun kendaraan yang digunakan sehari-hari.
Suatu hari ia datang ke Istana Negara, ketika akan dilantik sebagai Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) oleh Presiden Abdurrahman Wahid, dengan menggunakan kendaraan tua sehingga penjaga istana tak percaya bahwa di hadapannya itu adalah seorang tokoh politik yang sebentar lagi menjadi menteri. Untuk urusan makanpun tidak sulit-sulit amat selama masih ada nasi padang, kesenangannya.
Mahadi Sinambela telah menetap di Yogyakarta sebagai pelajar pada paruh terakhir tahun 1960-an meninggalkan tanah kelahirannya di Tanjung Balai, Sumut, Ia kemudian meneruskan kuliahnya di Fakultas Sosial Politik UGM.
Saya mulai mengenalnya di tahun 1971 ketika mulai berkuliah di fakultas yang sama, baik sebagai mahasiswa senior maupun sebagai tokoh HMI. Perawakannya yang tinggi dan gaya bicaranya mudah menarik untuk ngobrol dengannya lebih lama. Ia termasuk aktivis HMI yang sangat aktif.
Sepanjang pengetahuan saya Ketua HMI Yogyakarta yang secara nasional menonjol setelah Beddu Amang adalah Mahadi Sinambela, Ia banyak mewarnai perpolitikan mahasiswa, terutama dalam peralihan pimpinan HMI. Untuk menjaga agar keakraban alumni HMI Yogyakarta tetap terpelihara, bersama Beddu Amang dan beberapa alumni lainnya membentuklah Yayasan Amal Insani sekitar tahun 1980-an.
Yayasan ini bergerak memberikan bea siswa bagi mahasiswa berprestasi. Setelah Beddu Amang dan Sapuan, Mahadi kemudian memimpin yayasan ini. Mahadi pula yang tak putus selalu mendorong acara silaturahmi para alumni yang diadakan setiap tahun melalui buka puasa bersama dan halal bil halal tanpa putus. Barulah dua terakhir saya mengambil alih sementara acara tersebut akibat sakit yang dideritanya.
Bercerita tentang Mahadi pastilah tidak cukup tanpa menyinggung sepak terjang politiknya. Seperti kita ketahui di era tahun 1970-an dinamika politik mahasiswa ikut memanas sejalan dengan panasnya suhu politik nasional, demikian pula halnya di Yogyakarta