Reksodimejo, Jenderal Sumitro lengkap dengan pakaian militernya berkunjung ke kampus UGM memberikan berbagai ceramah. Dari kalangan sipil terlihat, antara lain Juwono Sudarsono, Ruslan Abdulgani, dan Nurcholid Madjid.
Tercatat gerakan mahasiswa yang panas jatuh pada tahun 1974 melalui Peristiwa Malari dan tahun 1978. Panasnya dunia politik mahasiswa pada waktu itu mendorong pemerintah menertibkan dunia aktivitas mahasiswa melalui langkah yang bernama Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) oleh Menteri Pendidikan Daoed Joesoef.
Dalam suasana demikian diskusi tentang politik dengan pandangan kritis dari Mahadi menambah hangatnya diskusi. Masih segar dalam ingatan saya adalah ketika mengikuti Intermediate Training Course HMI pada tahun 1974.
Pada waktu itu sebagai penceramah Mahadi memberikan pandangannya tentang kehidupan politik nasional dan gerakan mahasiswa, Gaya bicaranya yang santai, nyaris ”seenaknya”, tetap enak diikuti sehingga pendengarnya tidak mengantuk. Ia mengajak kita berpikir 25 tahun ke depan sehingga menyebut dirinya sebagai manusia tahun 2000-an. Terbukti kemudian puncak yang kariernya tercapai menjelang tahun 2000 ketika dilantik sebagai Menpora.
Barangkali yang paling menarik dikenang adalah eksperimen politiknya di kampus. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di UGM terjadi persaingan antara GMNI dan HMI untuk menguasai dewan mahasiswa. Dalam persaingan itu GMNI lebih banyak menguasai dibanding HMI.
Untuk waktu yang cukup lama kursi Ketua Kodema (Komisariat Dewan Mahasiswa) di Fakultas Sospol UGM tak terkecuali selalu di tangan GMNI. Kondisi ini mendorong Mahadi mencari jalan agar sekali waktu fakultas ini tidak dikuasai GMNI.
Pada waktu itu seorang mahasiswa independen, bernama Sutradara Gintings dikenal sangat pintar menganalisis kehidupan sosial politik dan retorikanya jarang ada tandingannya di UGM. Dalam berbagai diskusi ia selalu menonjol.
Popularitasnya memberi Mahadi inspirasi untuk mengajaknya maju sebagai calon Ketua Kodema dengan mendapat dukungan HMI kendati Gintings non-muslim. Ajakan Mahadi mendapat gayung bersambut. Hasil pemungutan suara dari eksperimen Mahadi ini terbukti posisi Gintings sebagai tokoh yang dianggap independen akhirnya memperoleh dukungan mayoritas mahasiswa,
Terpilihlah Gintings sebagai Ketua Kodema. Di kemudian hari kita mengenalnya sebagai anggota DPR mewakili Golkar, kemudian Partai Keadilan dan Persatuan dan terakhir terpilih dalam Pemilu 2004 mewakili PDIP.
Setelah itu tahun-tahun berikutnya GMNI tetap menguasai Kodema di Fakultas Sospol UGM, termasuk ketika saya maju menantang tokoh GMNI, Sudjadnan Parnohadingrat pada tahun 1974. Dari sebelas calon dipilih tujuh orang berdasarkan urutan suara. Dan.
Sudjadnan menjadi pemenang pertama dan saya sebagai pemenang kedua, disusul Handryo Pujo Kusumo (mantan Dubes di Brunei), Rasyid Saleh (mantan Dirjen Dukcapil, Kemendagri) dan yang masih teringat Manahat Aruan. Seperti kita ketahui Sudjadnan kemuian dikenal sebagai Sekjen Kemlu, Duta Besar di Canberra dan Washington.
Dalam era reformasi peranan Mahadi sebagai kader Golkar tak kalah pentingnya. Ia menjadi ketua tim mempersiapkan Akbar Tandjung sebagai calon ketua umum pada Munaslub Golkar tahun 1998.yang bermarkas di salah satu sudut di Kebayoran Baru.
Di sinilah disusun rancangan pemenangan, seperti menyiapkan visi misi dan pendekatan terhadap daerah-daerah untuk mendapatkan dukungan. Seperti diketahui lawan berat Akbar Tandjung pada waktu itu adalah Jenderal Sudradjat, KASAD.
Setelah Akbar Tandjung terpilih dan Golkar menjadi partai politik dengan paradigma barunya Mahadi kembali mendapat tugas lain, Kali ini ia dan Rully Chairul Azwar ditugaskan mengawal Partai Golkar di KPU. Berada di antara wakil-wakil dari empat puluh partai terbayang beratnya tugas mereka.
Tuduhan sebagai partai Orde Baru yang tak putusnya dilontarkan oleh
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.