Oleh: Rizal Mallarangeng*
href="http://kabargolkar.com">kabargolkar.com, JAKARTA - Tujuh belas April silam: petang itu, proses hitung cepat hasil Pemilu 2019 telah rampung. Jokowi menang besar dan Prabowo kalah telak. Saya baru saja selesai menjadi narasumber
talkshow Mata Najwa di Trans TV.
Saat melewati lobi mendekati pintu keluar studio, saya melihat kerumunan orang banyak. Rupanya Anies Baswedan berada di sana, dan dengan tangan terbuka dia langsung melangkah menyapa saya. Kami bertukar kata sebentar, dan saya langsung pamit karena masih ada acara di tempat lain.
Dalam percakapan singkat tersebut, seingat saya, dia sempat melontarkan kalimat seperti ini: “Selamat, Cel. Golkar sukses besar, ya. Di luar dugaan banyak orang.
What did you guys do?”
What did you guys do? Apa yang kalian lakukan? Rahasia apa yang ada di balik sukses Golkar? Pertanyaan ini gampang-gampang susah. Namun sebelum menjawabnya, mungkin saya perlu jelaskan sedikit tentang konteks keberhasilan partai beringin ini.
Buat saya, pemahaman mengenai hal ini, dan pengertian tentang Pileg secara keseluruhan, masih cukup simpang siur. Mungkin hal ini wajar saja, sebab perhatian publik dalam pemilu serentak yang baru saja kita lalui umumnya memang lebih tertuju pada dinamika Pilpres.
Kebingungan dan kesimpang-siuran tersebut terlihat, misalnya, dalam berbagai laporan media setelah KPU selesai melakukan rekap serta mengumumkan hasil akhir pemilu pada 21 Mei dini hari. Format pelaporan rekap ini seragam, baik Pilpres maupun Pileg, padahal pengertian keduanya sama sekali berbeda.
Pada Pilpres, format pelaporan yang benar memang sederhana: Jokowi-Amin 55,5 persen, Prabowo-Sandi 44,5 persen. Angka-angka ini berakhir di situ, sebagai sebuah penghitungan kalah-menang.
Pada Pileg, angka yang direkap dan ditampilkan KPU pada dini hari itu bukan akhir, tetapi justru sebuah awal dari penghitungan selanjutnya. Ia masih perlu “diterjemahkan” lagi ke dalam 80 dapil dari Aceh hingga Papua, lewat metode penghitungan Sainte Lague, untuk melihat perolehan kursi masing-masing partai politik.
Jumlah kursi itulah yang menjadi akhir dari semua penghitungan kalah-menang atau komposisi kekuatan riil dalam parlemen nasional. Inilah yang menjadi ujungnya Pileg 2019.
Dan lewat ukuran ini, posisi lima partai teratas agak berbeda dengan urutan dalam rekap pada laporan KPU tadi. Urutan dan perolehan kursi masing-masing partai teratas tersebut adalah sebagai berikut: PDIP (128), Golkar (85), Gerindra (78), Nasdem (59), dan PKB (58).
Dengan cara itu, kita kemudian bisa melihat bahwa Golkar, bersama PDIP, tetap berada dalam dua besar kekuatan politik nasional. Hal ini adalah sebuah rekor tersendiri. Sebab sejak pemilu demokratis pasca-Orde Baru, Golkar adalah satu-satunya parpol yang tidak pernah terdepak dari posisi dua besar ini (PDIP pernah berada di urutan ketiga, yaitu pada Pileg 2009)