sendiri.
Pencapaian seperti itu tidak boleh dipandang sebelah mata. Apalagi kalau kita ingat bahwa selama beberapa tahun sebelum Pemilu 2019, tidak ada parpol papan atas selain Golkar yang pernah diterpa badai begitu besar, susul-menyusul, dan berkepanjangan.
Perpecahan internal yang tajam antara dua kelompok kepemimpinan (Munas Bali dan Munas Ancol) berlangsung hampir dua tahun dan berujung di meja hijau. Setelah itu, kepemimpinan baru muncul sebagai sebuah solusi yang lumayan produktif, yaitu duo Setya Novanto dan Idrus Marham, masing-masing sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal.
Namun, selang kurang lebih setahun kemudian, duo ini juga berakhir di meja hijau dalam sebuah kasus korupsi yang heboh serta diliput luas oleh media nasional. Dari segi wibawa partai di hadapan publik, kasus ini bagaikan gelombang tinggi yang menyapu dan menghentak, mulai dari geladak hingga ke buritan kapal besar Partai Golkar.
Untungnya prahara ini cepat diselesaikan lewat Munaslub pada Desember 2017, dengan terpilihnya Airlangga Hartarto sebagai nakhoda baru. Namun,
the damage had already been done. Efek tajam semua itu terlihat pada krisis kepercayaan publik yang dicerminkan oleh berbagai survei yang muncul sejak awal hingga pertengahan 2018.
Pada umumnya survei-survei tersebut menunjukkan bahwa dampak elektoral semua itu memang sangat riil. Dalam survei Harian Kompas pada periode itu, misalnya, diperoleh estimasi bahwa suara Golkar akan merosot ke kisaran 6 persen, cukup jauh di bawah Gerindra. Dengan suara serendah itu, posisi Golkar bahkan terancam oleh PKB.
Dalam hitungan kemungkinan perolehan kursi DPR RI, terjemahan angka serendah itu adalah sebuah mimpi buruk. Sebab
range pencapaian Golkar diduga akan melorot, dari 91 kursi menjadi hanya 50-60 kursi.
[caption id="attachment_24174" align="aligncenter" width="717"]
Rizal Mallarangeng (Foto: Istimewa)[/caption]
Bagi sebuah kekuatan politik yang sudah berusia lebih setengah abad, “mimpi buruk” adalah sebuah ungkapan yang mungkin terlalu lembut untuk menjelaskan ancaman eksistensial tersebut. Tapi kurang lebih demikianlah situasi yang terjadi saat itu.
Singkatnya, itulah konteks mengapa pencapaian 85 kursi Golkar dalam Pileg 2019 dianggap mengejutkan. Tidak main-main, dalam waktu kurang lebih setahun, Airlangga sebagai nakhoda baru serta seluruh
slagorde kekuatan beringin sanggup bergerak cepat dan meraih prestasi yang cukup jauh di atas ekspektasi banyak orang.
Dalam pengertian itulah bisa dikatakan bahwa Golkar memang bukan partai kemarin sore. Seperti sebuah judul lagu populer yang dinyanyikan Phil Collins di tahun 1980-an, partai ini mampu bertarung melawan nasib,
against all odds, dengan hasil yang seharusnya membanggakan semua kader yang bernaung di dalamnya.
Sekarang, kita bisa kembali ke pertanyaan Anies Baswedan atau pertanyaan lain semacamnya: rahasia apa yang berada di balik sukses Partai Golkar?
Adakah faktor-faktor strategis yang dapat menjadi bahan pelajaran ke depan, baik bagi kader beringin sendiri maupun bagi partai-partai lainnya yang ingin mengukir sukses dalam pemilu di masa-masa mendatang?
Dalam politik, sebagaimana dalam banyak dimensi kehidupan lainnya, faktor yang menentukan sebuah sukses pasti berasal dari kombinasi berbagai hal. Bagi Golkar, faktor pertama yang perlu dicatat adalah kualitas serta jaringan kader di berbagai tingkat, baik nasional maupun lokal.
Secara umum, mereka adalah politisi tangguh, kenyal, banyak akal, serta memiliki penciuman politik yang tajam dan terlatih.
Karena kualitas semacam inilah, pada puncak terpaan badai politik di awal hingga pertengahan tahun lalu, mereka tidak patah atau porak-poranda. Mereka terus memendam harapan. Setelah badai reda,