Golkar dan Sarwono: Melintas Waktu 17 Juli 1971 ke 17 Juli 2019
Kabar Golkar 17 Juli 2019
jauh beraliran Islam. Nah, PMB dan Sarwono tidak kekanan tidak kekiri, dengan slogan khas yang masih bergaung sampai sekarang, Politik, Pesta dan Cinta, anggota PMB dikenal sebagai kalangan sosialita Bandung dengan aktivitas pesta dan dansa penuh kreativitas.
Eksistensi keaktivisan Sarwono adalah saat dia terpilih menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB, periode Dewan Mahasiswa itu 1 tahun, dalam waktu 1 tahun itulah Sarwono menunjukkan kerja-kerja kepemimpinan sekaligus kerja-kerja keorganisasian, 2 peninggalan dari masa beliau yang saya ingat, mendirikan PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan) dan membangun Student Center karena di 2 tempat itu juga saya sebagai mahasiswa ITB beraktivitas kemahasiswaan, menapaki jalan aktivisme yang dulu pernah dibuka Sarwono.
Birds of the same feathers flock together, and when they flock together they fly so high
Mereka kemudian menjadi kekuatan nyata atas solidaritas sesama anggota, kemampuan individual yang beragam dan panggilan jiwa perjuangan mereka bersatu menjadi aktivis mahasiswa Bandung, mahasiswa Indonesia yang militan menggalang perlawanan kepada rezim tua, rezim ORLA.
Tahun 1966 mahasiswa bersama tentara berhasil menggulingkan rezim ORLA. Tentara mengajak barisan aktivis memulai tatanan politik baru melawan rezim retorika dengan kerja.
Sarwono dan kawan-kawan perjuangannya sebagai mahasiswa angkatan 66 menjadi salah satu stakeholder utama ORBA, bersinergi dengan militer mewakili suara perubahan dan suara anak muda di parlemen, menjadi anggota DPR saat usia muda perwakilan Jawa Barat yang didukung penuh oleh Pangdam Siliwangi saat itu.
Sarwono yang berlatar belakang pendidikan jurusan teknik tentu galau antara memilih pekerjaan yang sesuai pendidikan atau terjun ke dalam dunia politik yang telah menjadi keseharian hidupnya sejak masa kecil. Sejarah kemudian mencatat, akhirnya Sarwono memilih mengabdikan diri nyemplung langsung ke dalam dunia perpolitikan nasional hingga kini.
Sarwono muda yang cekatan, idealis dan cerdas tampil menonjol, paling tidak begitu menurut sebagian elit kekuasaan saat itu. Benny Murdani lah yang ditugaskan memantau pergerakan Sarwono muda, yang menurut pengakuan sang Jenderal itu bahwa dia diperintah oleh Sang Jenderal besar Suharto.
Tidak mengherankan, latar belakang Sarwono bisa dikatakan lengkap pada masa itu untuk dapat dijadikan tokoh muda nasional, anak Jakarta, lulusan sekolah menengahInggris, besar dalam keluarga berjejaring aktivisme politik, latar belakang pendidikan berkualitas khas sekolah Katolik, Ketua Dewan Mahasiswa ITB. Suharto dan Benny tidak keliru memilih Sarwono.
Saat Sarwono menjadi Sekjen Golkar termuda tahun 1983 mendampingi Ketua Umumnya Sudharmono perangai dan cara pandang Sarwono tidak berubah, tetap tengah, tetap kerja dan tetap cerdas.
Sarwono memulai meletakan dasar manajemen organisasi modern pada Golkar, terkenal dengan istilah keanggotaan Golkar terbuka dan berdasarkan kesediaan atau kesukarelaan untuk bergabung menjadi anggota Golkar. Berselancar diantara para senior, elit penguasa dan politisi tentu bukan hal yang mudah buat Sarwono yang berkarakter aktivis pada saat yang bersamaan dia harus tetap obyektif dan idealis juga harus kompromi dengan pragmatisme politik kekuasaan.
Pilihan politik Sarwono bukan kehendak pribadinya sendiri, keputusan memilih jalur politik tentu juga menjadi penugasan kelompok para aktivisnya, "masuk merubah dari dalam" adalah kalimat yang sering didengar untuk dasar para aktivis masuk dalam pemerintahan ORBA, sebagian aktivis lainnya selain memilih menjadi profesional ada juga yang memilih tetap pada jalan pergerakan aktivisme.
Posisi Sarwono di pusat kekuasaan saat itu pernah mendapati dirinya pada situasi yang tidak enak, misalnya saat sahabat karibnya, Wimar Witular pernah
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.