[caption id="attachment_25538" align="aligncenter" width="660"]
Mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Periode 1983 / 1988 Sarwono Kusumaatmaja memeberikan pemaparan dalam diskusi yang berlangsung di Jakarta. Rabu (17/7/2019) (Photo/Kabargolkar.com)[/caption]
Kabargolkar.com - Lewat buku memoar pribadinya yang berjudul "Menapak Koridor Tengah", Sarwono menceritakan perjalanannya, dari seorang aktivis di era Soekarno, hingga menjadi menteri di era Soeharto. Buku ini menceritakan kisah hidup Sarwono, sepanjang 1948 hingga 1988. Ia telah merasakan detik-detik transisi kekuasaan dari zaman orde lama menuju orde baru.
Partai Golongan Karya (Golkar) tempat dimana dirinya mencapai kepuasaan dalam keorganisaan, dengan menduduki posisi Sekeretaris Jenderal periode 1983 sampai 1988, tentunya akan terus mengenang sosok kalangan sipil pertama yang sukses dalama partai Beringin tersebut.
DPD Golkar DKI Jakarta tidak lupa membuat sebuah diskusi sekaligus bedah buka, "Memoar Srawono, Menapak Koridor Tengah", rabu (17/7/2019). Salah satu pemateri, Khalid Zabidi yang juga mempunyai latar hampir sama dalam dunia pergerakan dengan Sarwono, yaitu sama sama aktivis asal Bandung (ITB) mempunyai dua pandangan terhadap mantan menteri Ligkungan Hidup tersebut,
pertama fase Sarwono sebagai aktivis Kampus, dimana karakter personal Sarwono yang tenang, kalem, cerdas cenderung nyeleneh membuat dia tidak tertarik pada sudut ekstrim, lebih memilih di tengah, pengalaman masuk PMB (Perkumpulan Mahasiswa Bandung) misalnya, organisasi ekstra kampus Bandung yang populer pada masanya.
"PMB mengukuhkan diri sebagai organisasi kemahasiswaan jalan tengah, karena pada masa itu pengkutuban ideologi sangat keras, dari kubu kiri jauh beraliran komunisme dan kubu kanan jauh beraliran Islam. Nah, PMB dan Sarwono tidak kekanan tidak kekiri, dengan slogan khas yang masih bergaung sampai sekarang,
Politik, Pesta dan
Cinta, anggota PMB dikenal sebagai kalangan sosialita Bandung dengan aktivitas pesta dan dansa penuh kreativitas." ungkap Khalid Zabidi
[caption id="attachment_25539" align="aligncenter" width="660"]
Panitia dan Pemateri Bedah dan diskusi buku "Memoar Sarwono, Menapak Koridor Tengah" melakukan sesi photo bersama setalah acara usai. (Photo/Kabargolkar)[/caption]
Yang yang
kedua, adalah masa ketika para pemangku kuasa negeri memonitor suara suara pergerakan mahasiswa, Sarwono yang berlatar belakang pendidikan jurusan teknik tentu galau antara memilih pekerjaan yang sesuai pendidikan atau terjun ke dalam dunia politik yang telah menjadi keseharian hidupnya sejak masa kecil. Melihat potensi dari beberapa kalangan aktivis tersebut, Benny Murdani yang ditugaskan memantau pergerakan Sarwono muda akhinya mendaptkan tugas dari Soeharto.
"Posisi Sarwono di pusat kekuasaan saat itu pernah mendapati dirinya pada situasi yang tidak enak, misalnya saat sahabat karibnya, Wimar Witular pernah ditangkap saat mendeklarasikan diri sebagai calon presiden sebuah parodi politik yang cerdas beresiko tinggi yang mengkritik kekuasaan Suharto dan Orde Baru yang tidak memiliki konsep suksesi pergantian kekuasaan atau saat tokoh aktivis pergerakan bawah tanah Rahman Tolleng ditangkap dan ditahan di rumah tahanan Guntur karena dianggap terlibat dalam gerakan mahasiswa yang memrotes kedatangan Menteri Luar Negeri Jepang". Tutup aktivis 98 Bandung tersebut