[caption id="attachment_25604" align="aligncenter" width="1280"]
Yuddy Chrisnandi (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)[/caption]
Oleh: Prof.Dr.Yuddy Chrisnandi,SH,ME*
kabargolkar.com, JAKARTA - Intelijen, sebuah kata yang sangat memikat. Merangsang kita untuk ingin menelisik lebih dalam. Mendorong kita untuk membaca isi sebuah dokumen dengan label : Top Secret, Intelijen. Suatu kerahasiaan yang diungkap oleh orang-orang berkemampuan khusus, yang menarik perhatian banyak orang. Informasi Intelijen merupakan pedoman pengambilan keputusan yang sangat penting , bernuansa Strategis, resiko terendah, bahkan untuk menutupi terjadinya resiko atas kesalahan pengambilan keputusan. Sejarah perjalanan umat manusia dalam struktur kebangsaannya, dimasa lampau sejak kegemilangan Bangsa Yunani hingga seluruh wilayahnya dikuasai oleh Romawi (146 SM ) dan perkembangan Bangsa Romawi( 753 SM-426M), keberhasilan ekspansi wilayah, penaklukan, kemenangan peperangan, suksesi kepemimpinan, ditentukan oleh perangkat Intelijennya. Aktifitas Intelijen , terus berlangsung sepanjang sejarah kebangsaan umat manusia membentuk Negara, hingga masa sekarang, menempatkan Intelijen sebagai entitas yang sangat penting bagi Negara.
Peran Intelijen Era Global
Berakhirnya perang dingin memberi format baru dalam tatanan dunia internasional dan konflik internasional yang menyertainya. Ancaman tidak lagi harus dipersepsikan secara konvensional melalui aktor negara yang mengancam negara lain melalui agresi dan aneksasi, namun juga bisa berasal dari aktor-aktor non state (negara) yang gejalanya makin terlihat belakangan ini. Sebagai contoh misalnya serangan Teroris ke twin tower WTC-Nerwyork Amerika Serikat pada 11 september 2001, serangan Bom Bali 1 dan 2 (2002-2005) yang merupakan sejarah serangan terorisme terparah di Indonesia, munculnya organisasi teroris kelas dunia Al-Qaedah ( 1988-2011) dibawah pimpinan Osamah Bin Laden dilanjutkan Ayman Al Zawahiri, merebaknya ancaman terrorisme global dari organisasi menamakan Jamiyah Islamiyah (JI, 2002) atau eksistensi ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) merebut pengaruh Negara di Iraq dan Syiria juga menebar teror di Timur Tengah, dibawah komando Abdurahman Al Bagdadi,sejak pernyataan berdirinya 2010 hinggamengambil alih penguasaan wilayah di Mosul dan Tikrit, Iraq, sebelum akhirnya direbut kembali oleh pemerintah Iraq dengan dukungan AS pada tahun 2018, adalah sebagian fakta bahwa ancaman Negara tidak lagi simetris.
Di dunia yang makin modern saat ini, penguasaan negara oleh negara lain melalui aksi-aksi militer telah usang , ditinggalkan seiring dengan makin dipegangnya prinsip-prinsip non interference yang melekat pada kedaulatan sebuah negara (sovereign state). Dari 193 Negara yang bergabung dalam PBB (2019), hampir seluruhnya sudah menerapkan azas penyelenggaraan Pemerintahan yang Demokratis sebagai prinsip universalisme demokrasi. Dalam pandangan saya, ada 3 katagori kelompok Negara yang menamakan Demokrasi, yaitu kelompok Negara Demokrasi murni yang dimotori Amerika Serikat, Ingris, Perancis yang diikuti sebagian besar Negara dunia. Kelompok Negara Demokrasi semu (Partai tunggal) yaitu Cina, Saudi Arabia, Qatar, Korea Utara, Brunai ,Kuba dan beberapa negara di timur tengah. Kelompok Negara Demokrasi prosedural, yang di contohkan oleh Rusia, Venezuela, dan beberapa negara di timur tengah, Afrika maupun Amerika Latin