kemudian hari, tujuh KINO itulah yang menjadi sumber kekuatan untuk menghalau ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila.
Saat paham komunisme berupaya melemahkan dasar negara Pancasila dan UUD 1945, semua elemen bangsa yang berbeda-beda itu mengakumulasi kekuatan bersama dalam wadah Golkar. Kekuatan politik yang terhimpun dalam Golkar itu berevolusi menjadi front nasional yang mampu menghentikan penetrasi paham komunis di Indonesia.
Catatan singkat tentang peran strategis Golkar di masa lalu ini perlu dikedepankan lagi agar semua unsur di dalam keluarga besar Golkar paham betapa bangsa dan negara sangat membutuhkan partai ini. Golkar adalah penjaga dan pengamal Pancasila serta UUD 1945. Golkar pun terbukti mampu menjalankan perannya sebagai perekat keberagaman bangsa. Golkar menjadi kekuatan politik yang tak terpisahkan dari eksistensi bangsa dan negara. Maka, karena panggilan sejarah pula, takdir itu harus diaktualisasikan lagi karena kehendak zaman. Termasuk menyatukan kembali berbagai kekuatan yang lama terserak itu menjadi satu kekuatan penuh, termasuk para purnawirawan dan keluarga TNI/Polri, FKPPI, Pemuda Pancasila, plus Satkar Ulama, MDI dan Al Hidaiyah yang selama ini jalan sendiri-sendiri.
Konsolidasi
Masih adakah semua sumber kekuatan Golkar itu? Kalau pun masih eksis, seberapa efektif semua KINO itu menjalankan peran dan fungsinya sebagai mesin penggerak untuk mencapai dan mewujudkan tujuan Golkar? Pertanyaan ini relevan untuk dikedepankan saat ini sekadar sebagai introspeksi partai. Ketika harus mencari jawaban atas pertanyaan ini, pijakannya adalah hasil atau perolehan suara dari pemilihan umum. Pada Pemilu 2019, perolehan suara Golkar tidak terlalu menggembirakan, walaupun Golkar memang masuk kelompok fraksi besar di parlemen. Dalam beberapa kali pemilihan presiden, Golkar sebagai partai besar dengan segudang pengalaman bahkan tidak cukup kuat untuk menawarkan calonnya sendiri. Tentu harus dicari titik lemahnya.
Maka, evaluasi menyeluruh menjadi pilihan tak terelakan. Apakah KINO-KINO selama ini khususnya Trikarya seperti SOKSI, Kosgoro dan MKGR mendapatkan perlakuan sebagaimana mestinya sehingga layak untuk diandalkan sebagai mesin pemenangan? Selain itu, apakah Golkar telah berupaya maksimal untuk mendapatkan simpati dari generasi milenial yang jumlahnya mencapai 90 juta itu?
Zaman terus berubah, sehingga muncul pula tuntutan untuk mengubah pola pendekatan kepada komunitas untuk menjadi simpatisan partai politik. Oleh para perancang Sekber Golkar dan pendiri partai, Golkar telah diwarisi strategi yang sangat efektif dalam mengakumulasi simpatisan. Strategi itu tak lain adalah merangkul semua golongan dan kelompok-kelompok kekuatan nasionalis. Untuk era terkini, golongan dan kelompok dimaksud tentu saja ada di dalam generasi milenial. Karakter generasi milenial sudah banyak diulas. Jika Golkar ingin melakukan pendekatan kepada mereka, tentu saja pola pendekatannya berbeda dengan pola yang dulu digunakan oleh para perancang Sekber Golkar. Tantangannya bisa disebut sama, yakni menjaga dan mengamankan Pancasila serta UUD 1945, tetapi cara mengkomunikasikan dan cara merangkul mereka tentu harus disesuaikan gaya kehidupan masa kini. Sudah saatnya Golkar melakukan Re-branding untuk menyesuaikan diri terhadap tantangan jaman. Agar dapat terus menerus melakukan akselelari dan modernisasi agar Partai Golkar melapaskan diri dari stigma ‘Partai Jadul’ menjadi Partai masa depan yang memberikan kebanggaan dan harapan bagi generasi milenial.
Sebelum dan selama tahun politik 2019, bisa terbaca dengan cukup jelas aspirasi generasi milenial yang menginginkan kekuatan nasional menjaga dan mengamankan Pancasila, UUD 1945 dan keutuhan NKRI. Dari aspirasi itu, lahir tagar ‘Pancasila Harga Mati’ dan
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.