Jakarta — Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai
pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan nilai tukar rupiah dan penguatan dolar Amerika Serikat (USD) ditujukan untuk menjaga ketenangan masyarakat di tengah situasi ekonomi global.
Menurut Misbakhun, dampak langsung dari penguatan dolar AS tidak dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya warga di pedesaan yang tidak berhubungan langsung dengan transaksi berbasis dolar.
“Apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden terkait dengan nilai tugas, beliau benar bahwa masyarakat diminta tenang, terutama masyarakat pedesaan, karena memang mereka tidak terkait langsung dengan transaksi yang menggunakan dolar. Yang terpengaruh adalah transaksi-transaksi yang menggunakan impor, orang-orang kaya yang bepergian ke luar negeri,” kata Misbakhun kepada wartawan, Minggu (17/5/2026).
Ia menilai arahan Presiden juga menjadi sinyal penting bagi Bank Indonesia agar segera mengambil langkah pengendalian terhadap nilai tukar rupiah. Menurutnya, stabilitas rupiah perlu dijaga agar tidak menimbulkan tekanan lebih besar terhadap sektor-sektor yang bergantung pada impor.
“Masyarakat yang menggunakan dolar dalam transaksi itu apa? Yang selama ini bahan bakunya impor. Dan salah satu yang impor yang kita khawatirkan adalah impor dari komoditas-komoditas yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Misbakhun mengingatkan bahwa penguatan dolar dapat berdampak pada kenaikan inflasi akibat meningkatnya biaya impor bahan baku. Terlebih, nilai tukar rupiah saat ini telah melampaui lebih dari Rp1.000 dibanding asumsi makro dalam APBN 2026.
“Tentunya apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo terkait nilai tukar itu adalah untuk menenangkan masyarakat, supaya masyarakat tidak panik, supaya masyarakat tetap tenang dan masyarakat tidak terpengaruh dengan hal-hal yang sifatnya ingin mengganggu stabilitas ekonomi nasional kita,” ucapnya.
Di sisi lain, Misbakhun menilai terdapat pesan tersirat dari Presiden agar isu pelemahan rupiah tidak dianggap sepele. Ia meminta Bank Indonesia segera melakukan langkah konkret untuk mengembalikan penguatan rupiah ke level yang dinilai wajar.
“Dan Bapak Presiden juga menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat. Ketika fundamental ekonomi sangat kuat, kenapa sampai terjadi pelemahan terhadap rupiah? Dan rupiah termasuk mata uang yang secara regional mengalami pelemahan sangat signifikan. Dan tentunya kami di Komisi XI memberikan kesempatan kepada Bank Indonesia untuk melakukan langkah-langkah yang strategis bagaimana bisa melakukan upaya penguatan kembali nilai rupiah kepada angka pada harga atau pada nilai yang menurut saya sepantasnya,” kata
Misbakhun.
Ia juga menyoroti meningkatnya perhatian publik terhadap pergerakan dolar AS setelah kurs menembus angka Rp17 ribu per USD dan diperkirakan bergerak menuju Rp17.600.
“Sejak USD 1 melewati Rp 17 ribu, penurunan itu dinilai berlanjut sampai sekitar Rp 17.600. Jadi masyarakat yang semula tidak pernah membicarakan dolar yang begitu kuatnya, di warung-warung kopi sekarang orang mulai membicarakan soal rupiah melemah dan dolar menguat,” ujarnya