kabargolkar.com, JAKARTA- Sosok Agun Gunandjar Sudarsa memang dikenal loyal kepada Partai Golkar. Sebagai politikus senior, kemampuannya dalam dunia politik jangan diragukan. Di usia semakin senja, dia terus menunjukkan kemampuannya.
Selama berkarir di politik, Agun sudah mengantongi segudang pengalaman. Apalagi untuk urusan legislasi. Hidup sebagai anggota DPR sejak tahun 1997, membuatnya paham bagaimana harus bersikap dan berpendapat ketika dalam rapat di parlemen.
Kang Agun, sapaan akrabnya, sadar bahwa menjadi wakil rakyat bakal menerima banyak tuduhan negatif. Memang harus diakui bahwa tidak semua rekan sejawatnya di legislatif mampu menahan diri tindakan terpuji. Walau begitu, dirinya merasa masih banyak juga yang mempunyai banyak prestasi.
Dalam kontestasi Pemilu 2019, Kang Agun kembali lolos ke DPR untuk periode 2019-2024. Dirinya merasa belum bosan untuk bekerja sebagai wakil rakyat. Walaupun belakangan merasa bahwa banyak anggota DPR muda jarang datang ketika rapat. "Kok kenapa banyak senior yang lebih rajin?" ujarnya.
Sebagai seorang anggota DPR terlama, Agun Gunandjar bercerita banyak keluh kesahnya dan kebanggaannya selama duduk di Parlemen. Berikut perbincangan Kang Agun dengan wartawan merdeka.com Angga Yudha Pratomo di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa pekan lalu:
Pengalaman Agun Gunandjar
Bagaimana cerita awal ketika Anda duduk sebagai anggota DPR tahun 1997?
Tahun 1997 kan ada jalur 'ABG' (ABRI/Militer, Birokrasi dan Golkar). Saya masuk dari jalur ABRI, karena saya anak tentara dari FKPPI. Ya sudah masuk dari jalur situ. Ketika reformasi 1997 ke 1999 saya keluar dari pegawai negeri lalu saya masuk lagi ke Partai Golkar dan lolos.
Mengikuti Pemilu tahun 1999 itu paling berat. Waktu saya dikasih nomor urut 4 di Pemilu 1999, tapi justru suara saya terbesar di situ. Ya mungkin konstituen saya kasihan melihat saya di nomor 4. Dulu (Pemilu 1999) Partai Golkar nomor 23 dan itu saya abadikan di nomor mobil saya. Plat mobil saya kan B 234 GUN.
Bisa diceritakan seperti apa karir Anda sebagai anggota DPR dari tahun 1997?
Saya muter. Tapi sebetulnya di bidang hukum karena dulu bidang hukum di situ. Pertama hukum di komisi II DPR. Saat hukum pindah ke Komisi III DPR, saya juga di sana. Setelah itu baru pindah ke komisi II DPR yang menangani Pemilu.
Untuk lima tahun terakhir (DPR periode 2014-2019) saya tidak punya posisi jelas. Jadi saya dipindah-pindah karena kisruh internal Partai Golkar. Sehingga pernah berada di Komisi I, VI, III dan terakhir Komisi XI, sampai periode itu habis.
Selama menjabat anggota DPR, bagaimana Anda melihat tingkah laku para anggota lain dari tiap periode?
Lima tahun terkahir ini saya melihat ada yang agak aneh, jumlah kehadiran, aktivitas. Lima tahun ini saya melihat justru anak muda lebih banyak, yang berpendidikan tinggi banyak, harusnya kan kinerjanya lebih bagus, lebih baik. Tapi faktanya sebaliknya