Saat ini, empat bank China menduduki urutan pertama hingga ke-4 dari daftar 10 besar bank terbesar di dunia. Demikian juga, 119 perusahaan China masuk Fortune Global 500, selisih dua perusahaan dengan Amerika Serikat yang mencatatakan 121 perusahaan.
Jadi, Bung Nasrudin, bagaimana China membangun negerinya dan berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat serta menekan angka kemiskinan itulah yang patut kita pelajari, dan hal itulah menjadi wilayah kerja sama kedua partai. Bukan mempelajari paham komunis yang menjadi ideologi China!
Di sisi lain, bagaimana China berhail mempertahankan ideologinya di tengah serbuan kapital (investasi) yang masuk ke negaranya? Melalui “sekolah ideologi partai”. China melakukan pendidikan kepada seluruh calon pejabat dari level rendah hingga tinggi di sebuah “sekolah ideologi partai.”
Hasilnya, yang seperti kita lihat saat ini, bahwa investasi, kapital dan pergaulan internasional tak mampu mengubah paham dan atau ideologi China.
Belajar dari China
Indonesia bisa belajar dari China. Untuk mempertahankan ideologi Pancasila dari serbuan paham lain (komunis dan liberal), menguatnya kepentingan individu serta menguatnya politik identitas perlu dibuat “sekolah ideologi Pancasila” yang diikuti oleh seluruh kader partai politik, ASN, mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya.
Bung Nasrudin pasti mengetahui hadis ini, ”Carilah ilmu meskipun di negeri China, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” Meski tak tergolong hadis sahih, hadis ini sangat masyhur.
Dan faktanya, dunia tak bisa lepas/menghindar dari China, baik secara ekonomi maupun politik.
Lalu Mara Satriawangsa, Wakil Sekretaris Dewan Pembina Partai Golkar