21 Juni 2021
Dunia Serba Digital, Iman adalah Kunci
  Nyoman Suardhika
  24 Mei 2021
  • Share :
Credit Photo / Facebook

Oleh : H. RUDY MASUD, SE., ME

Kabargolkar.com - 
Digitalisasi di semua lini kehidupan manusia adalah suatu keniscayaan yang harus kita hadapi di era serba tekhnologi modern sekarang ini. Mau tidak mau, suka atau tidak suka dan siap atau tidak siap, era digital sudah di depan mata. Kita harus bisa! Bisa menjadi tuan bagi teknologi dalam genggaman kita.

Dunia yang serba digital dalam segala perangkat dan kita gunakan sehari-hari saat ini menjadikan semuanya menjadi lebih mudah dan praktis, cepat dan hemat. Segala hal yang kita mau, mudah terjangkau. Segala hal yang kita cari, praktis ada. Segala hal yang kita perlukan, cepat tersedia. Segala hal yang ingin kita beli, harga hemat. Singkatnya, digitalisasi mendobrak batas-batas ruang dan waktu, menerabas batas-batas wilayah. Tanpa sekat, menjadi semakin dekat.

Digitalitasi juga membuat akses komunikasi dan informasi menjadi bebas. Platform media sosial semakin beragam, beraneka macam jenis dan tipikalnya. Mau yang hiburan, banyak. Mau yang isinya gaya hidup, ada pilihan. Mau yang suka macam-macam kulineran, serba variasi ada. Update berita politik, ekonomi, budaya, olahraga sampai isu-isu sensitif bisa kita nikmati dengan sekali “klik” saja. Digitilisasi seolah menyampaikan pesan: semua serba ada, silakan pilih!

Bagi generasi millennial dan anak-anak muda zaman sekarang, tidak mau dibilang “gaptek” kalau tidak eksis di media sosial. Sebuah kenyataan. Generasi muda adalah sasaran empuk derasnya arus informasi digital melalui berbagai platform tersebut, seiring dengan mudahnya mereka mendapatkan perangkat telepon genggam. Bahkan, handphone mereka pun semakin canggih-canggih mengalahkan HP orang tuanya sekalipun! Semua aplikasi populer yang tengah hits di kalangan anak muda, pasti diunduhnya. Mulai aplikasi game, aplikasi edit foto sampai aplikasi viral semacam TikTok, BigoLive dan sebagainya.

Digitalisasi pun membawa konsekuensi. Bagi generasi muda “zaman now”, HP adalah candu. Semua aplikasi yang ada di perangkatnya selalu bikin kecanduan. Dan sering sekali mereka menjadi lupa waktu karena terlalu asyik dengan gadget-nya. Sudah menjadi tren di kalangan remaja kita saat ini. “Gak eksis, gak asyik”. Begitu yang sering kita dengar nyinyiran di mereka.

Namun, satu hal yang selalu saya katakan dimana-mana, fenomena ini bisa menjadi "pedang bermata dua". Menurut laporan dari perusahaan media asal Inggris, We Are Social, mengungkapkan dalam laporannya yang berjudul "Digital 2021: The Latest Insights Inti The State of Digital" yang diterbitkan pada 11 Februari 2021. Laporan itu berisi hasil riset mengenai pola pemakaian media sosial di sejumlah negara termasuk di Indonesia.

Rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 14 menit sehari untuk mengakses media sosial. Dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia sama dengan 61,8 persen dari total populasi pada Januari 2021. Angka ini juga meningkat 10 juta, atau sekitar 6,3 persen dibandingkan tahun lalu.

Dari data ini, dapat disimpulkan bahwa pengguna sosial media di Indonesia sangat besar. Bukan angka yang main-main. Besaran jumlah pengguna sosial media kita ini, boleh jadi adalah gambaran yang baik. Karena masyarakat kita melek teknonologi.

Ironisnya, eksis di media sosial ternyata juga banyak menyeret kalangan remaja pada kasus-kasus kriminalitas dengan berbagai macam aktivitas yang sengaja dibuat demi konten untuk menjadi “viral”. Tidak sedikit yang akhirnya terkena pasal pidana. Yang lebih berbahaya adalah ketika kalangan remaja kita menjadi mangsa empuk pornografi dan pornoaksi. Banyak yang terjerumus, sehingga harus menjadi perhatian kita semua. Jangan sampai generasi muda kita kehilangan masa mudanya yang indah hanya karena “salah konten” di media sosial. Kita wajib menyelamatkan mereka dari jebakan konten digitalisasi.

Iman Adalah Kunci

Mungkin banyak penjelasan dari pakar-pakar, mengapa "penyimpangan-pengyimpangan" seperti yang sudah terjadi bisa dialami oleh pengguna sosial media kita. Selain daripada kemudahan akses informasi itu sendiri. Proses verifikasi sebuah isu yang didapat juga masih belum baik. Dalam istilah yang lebih populer, disebut, "saring sebelum sharing". Kemudian, ini yang bagi saya sebetulnya fundamental (mendasar), yaitu iman.

Banyak dari kita, yang menggunakan sosial media dengan melupakan iman yang kita genggam. Iman berarti percaya. Percaya akan eksistensiNya. Percaya akan kehadiranNya yang selalu mengawasi gerak-gerik kita, tak terkecuali dalam menggunakan sosial media, sebagaimana tuntutan logis dari adanya era digitalisasi sekarang ini. Jika nilai-nilai yang terkandung di dalam iman itu, bisa selalu kita pegang teguh, niscaya kita juga akan lebih bijak dalam menggunakan platform sosial media. Karena seperti yang saya katakan, kita merasa diawasi.

Saya rasa, memang ada sebuah paradoks yang terjadi. Kita, manusia, seringkali berdo'a dengan sangat yakin, bahwa Tuhan pasti Maha Mendengar. Namun, saat kita melalukan kesalahan, kita lupa bahwa Tuhan juga Maha Melihat.

Iman adalah kunci. Iman juga menjadi solusi yang paling relevan disegala era dan kondisi. Termasuk di era digitalisasi serta arus informasi yang begitu cepat ini. Dengan meningkatkan iman, ketaqwaan, serta edukasi yang baik. InsyaAllah, saya percaya, hal-hal demikian bisa lebih kita minimalisir.

Semoga segala kekhilafan kita, bisa menjadi gerbang kesadaran yang sempurna.


H. RUDY MASUD, SE., ME (Komisi III DPR RI Fraksi Golkar, Ketua BPW KKSS Kaltim, Ketua DEPIDAR SOKSI KALTIM)



Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.