Faktor ketiga adalah pemerintah memerintahkan Bulog untuk melakukan impor beras sebanyak 2 juta ton untuk memenuhi kebutuhan beras nasional tapi baru masuk beras impor sebanyak 500.000 ton beras, sehingga stok beras yang ada belum sesuai yang diharapkan pemerintah.
Faktor keempat adalah Bulog mengalami kesulitan menyerap gabah hasil panen petani karena harga gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG) saat ini sudah jauh di atas harga tetapan pemerintah, Bulog mampu menyerap gabah dengan harga Rp 5.000 per kilogram di tingkat petani dan Rp 5.100 per kilogram di tingkat penggilingan. Jika dengan harga gabah jauh di atas harga tetapan pemerintah maka Bulog tidak bisa melakukan membeli gabah dari petani. Stok cadangan beras pemerintah (CBP) Bulog akan selalu berkurang karena Bulog akan melakukan operasi pasar dan memberikan bantuan sosial.
Faktor kelima yang tidak bisa dipungkiri dan selalu dihadapi petani setiap tanam padi adalah semakin mahalnya biaya produksi, seperti sewa lahan, pengolahan lahan, pupuk, insektisida, herbisida, fungisida, benih, tenaga kerja dan biaya panen yang tentunya menambah biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk memproduksi gabah.
Dari beberapa faktor yang sudah dijelaskan di atas, sudah bisa diamati mengapa harga gabah kuartal III tahun 2023 tertinggi sejak 10 tahun terakhir, bukan hanya karena masalah biaya produksi saja tapi juga dipengaruhi oleh faktor iklim, termasuk adanya politik protesionis pangan internasional, turunnya produksi gabah dampak El Nino, impor beras belum sesuai yang diinginkan oleh pemerintah, dengan mahalnya harga gabah menbuat Bulog juga tidak bisa menyerap gabah petani karena jika Bulog menyerap gabah petani, harus sesuai dengan harga gabah tetapan pemerintah.
Tonny Saritua Purba (Kader Partai Golkar, Ketua Bidang Tani dan Nelayan Depinas SOKSI, Aktifis Praja Muda Beringin dan Pengamat Pertanian)