Keempat, sumber garam. Sampai saat ini Indonesia masih harus mengimpor garam. Menurut data BPS tahun 2022, Indonesia mengimpor garam sebanyak 2,75 juta ton untuk menutupi kekurangan produksi garam dalam negeri yang hanya sekitar 1,2 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan garam mencapai 4,5 juta ton per tahun.
Kelima, sumber susu.. Menurut data BPS tahun 2022, produksi susu segar di Indonesia sekitar 968 ribu ton, sementara untuk kebutuhan susunya mencapai 4,4 juta ton.
Dari penjelaskan diatas ada beberapa komoditi yang sumber pangannya surplus, seperti ikan, daging ayam, sayuran, hostikultura dan buah-buahan. Untuk komoditi yang defisit, seperti beras, daging sapi, susu dan garam masih mengandalkan impor. Komoditi inilah yang perlu dilakukan pemberdayaan, mencetak lahan pertanian, bangun bidang peternakan dengan cara menambah jumlah indukan sapi perah, indukan sapi potong dan indukan sapi breeding untuk penyediaan bibit sapi yang unggul termasuk juga meningkatkan produksi garam.
Dari semua kendala tersebut pasti membutuhkan jumlah pelaku taninya, regenerasi petani perlu dilakukan, harus semakin banyak yang terjun ke bidang pertanian dan peternakan.
Program makan bergizi dan minum susu gratis harus dimulai dalam skala kecil, dengan anggaran kecil dan lakukan di daerah yang tingkat stunting yang tertinggi dan daerah termiskin. Sumber pangan harus diperhitungkan karena ada beberapa sumber panga yang defisit, sambil melakukan pemberdayaan kususnya kepada petani padi dan peternak.
Program makan bergizi dan minum susu gratis sangat besar peranannya untuk mengatasi stunting, kemiskinan, membangun perekonomian kerakyatan, membantu pertumbuhan ekonomi, meraih swasembada pangan, untuk jangka panjangnya adalah akan melahirkan generasi penerus yang memiliki tinggi badan dan sehat secara tulang, otot dan otak
Penulis :
Tonny Saritua Purba, SP
(Kader Partai Golkar, Ketua Bidang Tani dan Nelayan Depinas SOKSi, Pengurus DPP HA IPB University, Pengurus DPP PISPI)