Yang dikhawatirkan adalah program makan bergizi dan minum susu gratis menjadi ajang bisnis bagi beberapa kelompok tertentu karena adanya berita di media on line bahwa anggaran dari 15.000 per anak turun menjadi 7.500 sampai 9.000 per. Adanya berita tersebut sebuah tanda bahwa belum adanya aturan yang pasti berapa besarnya anggaran dari pemerintah.
Masih ada beberapa tantangan lainnya, seperti sumber pangannya, seperti kebutuhan beras, daging, sayur mayur, buah-buahan dan susu. Secara umum, sumber pangan saat ini masih impor bahkan untuk produksi garam juga masih defisit. Tetapi dari banyaknya tantangan yang ada, pasti ada peluang besar di dalamnya, hanya saja belum bisa diketahui apakah program makan bergizi dan minum susu gratis ini memiliki anggaran untuk pemberdayaan bagi petani, peternak dan nelayan ?
Jika anggaran pemberdayaan tidak diusulkan di dalam RAPBN 2025 berarti program makan bergizi dan minum susu gratis tersebut tujuannya akan bergeser menjadi program bantuan sosial atau menjadi proyek pengadaan barang dan jasa.
Penulis :
Tonny Saritua Purba
(Kader Partai Golkar, Ketua Bidang Tani dan Nelayan Depinas SOKSI)