Apakah Sinterklas Terinspirasi dari Ayaz Ata?
Setiap bulan Desember, dunia mengenal sosok
Sinterklas sebagai pembawa keceriaan Natal. Namun, jarang yang tahu bahwa ada tokoh serupa dalam mitologi Turki yang dikenal sebagai Ayaz Ata. Meski berasal dari budaya yang berbeda, Sinterklas dan Ayaz Ata memiliki beberapa kemiripan yang menarik untuk ditelusuri. Bahkan, ada kemungkinan bahwa sosok Sinterklas modern mendapatkan inspirasi dari sosok legenda Turki ini. Ayaz Ata, yang berarti "Ayah Salju," adalah figur mitologis dari tradisi Turki dan Asia Tengah yang muncul di musim dingin sebagai simbol kebijaksanaan, kemurahan hati, dan perlindungan.
Ayaz Ata digambarkan sebagai pria tua berjanggut putih yang menampakkan diri kepada orang miskin, tunawisma, dan lapar yang akan mati membeku di musim dingin yang ekstrem dan melindungi mereka. Menurut cerita, Ayaz Ata ditemani oleh pendamping perempuan, seperti putrinya "Ayaz Kız" atau "Kar Kızı”, Sang Gadis Salju yang membantunya dalam perbuatan baik. Di berbagai budaya Asia Tengah, ia dikenal dengan nama-nama lokal seperti “Ayaz Han” di Siberia, "Ayoz Bobo" di Uzbekistan dan "Ayaz Ata" di Kazakstan serta Kirgistan.

Ayaz Ata adalah dewa musim dingin yang berasal dari Tengrisme dan menurut mitologi Turki diciptakan dari cahaya Bulan, yang disebabkan oleh cuaca dingin dan dikaitkan dengan membawa salju, melindungi orang-orang dari ganasnya cuaca dingin. Hari raya "Soğumbası" di kalangan masyarakat Kazakh, yang dirayakan saat salju pertama turun berkaitan dengan penghormatan terhadap Ayaz Ata. Menurut kisah ini, enam bintang khusus di konstelasi Ulker merupakan enam lubang di langit dan Ayaz Ata meniupkan udara dingin ke bumi dari lubang-lubang ini, dengan demikian musim dingin pun tiba.
Secara etimologis bahasa Turki, Ayaz berarti dingin yang membakar, karena bulan muncul dalam cuaca cerah saat terlihat jelas di langit. Masyarakat Turki pra-Islam mengira Dewa Bulan (Ayaz Han) telah memberikan langit sebagai hadiah bagi manusia. Selama malam musim dingin yang panjang, hewan-hewan ternak dan anggota keluarga rentan seperti orangtua, anak-anak dan perempuan yang terdampar di luar rumah mati kedinginan. Peristiwa ini menyebabkan ketakutan dan keputusasaan meningkat diantara orang Turki.
Bangsa Turki Utara yang tinggal di sekitar Siberia dan Pegunungan Altay merayakan titik balik matahari musim dingin khususnya menggunakan shaman atau spiritualis, karena mereka dianggap sebagai manusia paling bijak di komunitas dan dimintai pendapatnya untuk mencapai Tuhan. Sementara itu di kalangan bangsa Oghuz yang dianggap sebagai orang Turki Selatan, tradisi ini lebih dirayakan sebagai Nevruz. Ayaz Ata berkomunikasi dengan Dewa Bulan di kalangan orang Turki dan bertindak sebagai perantara untuk mengakhiri cuaca dingin.
*Hari Raya Nardugan*