Ketika bangsa Turki tinggal di Asia Tengah hidup sebagai masyarakat nomaden dan tidak membangun kehidupan yang menetap. Mereka hidup dalam ritual yang kuat dalam kepercayaan sebelum menerima agama Islam. Matahari memegang tempat yang penting dalam kehidupan tradisional bangsa Turki. Selama perayaan Nardugan, ritual dan doa khusus dipanjatkan kepada Dewa Ulgen dan berbagai ornamen kain berwarna diikatkan pada pohon pinus putih untuk pemenuhan keinginan. Tradisi ini dikenal sebagai “Pohon Kehidupan” karena tidak menggugurkan daunnya bahkan di musim dingin dan tetap hidup sepanjang musim. Sementara itu, di banyak negara pohon Natal secara tradisional dihias untuk menyambut tahun baru dan kepercayaan kepada Sinterklas yang membawa hadiah.
Hubungan lainnya antara Natal dengan Nardugan adalah adanya rusa kutub Sagun yang berasal dari Asia Tengah. Ayaz Ata menaiki kereta luncur yang ditarik oleh rusa kutub ini sama dengan penggunaan rusa kutub Sinterklas yang menjadi simbol dalam dunia Kristen. Kemungkinan hubungan antara Ayaz Ata dan Sinterklas memungkinkan jika dilihat dari lintasan sejarah budaya. Ketika bangsa Turki mulai berinteraksi dengan budaya Kristen Bizantium melalui perdagangan dan peperangan, tradisi ini turut mempengaruhi perkembangan legenda Sinterklas di Eropa. Apalagi, kisah tentang Sinterklas awalnya terinspirasi oleh figur historis Santo Nikolas, seorang uskup di Myra (kini wilayah Turki). Perpaduan budaya ini berpotensi menyerap unsur dari mitologi lokal, termasuk dari sosok Ayaz Ata.
*Santo Nikolas Sang Uskup Myra*
Turki memiliki signifikansi historis sebagai wilayah asal Santo Nikolas yang dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam tradisi Natal di dunia Barat. Santo Nikolas lahir di kota Patara yang terletak di wilayah Lycia (sekarang bagian Turki modern), pada abad ke-3 Masehi. Saat muda dia bepergian ke Palestina dan Mesir, kemudian menjadi Uskup Myra, sebuah kota kuno yang kini dikenal sebagai Demre di Provinsi Antalya, Turki. Santo Nikolas terkenal karena kedermawanannya, terutama kepada anak-anak dan mereka yang membutuhkan. Warisannya sebagai seorang pelindung anak-anak, pelaut, dan orang miskin menjadikannya tokoh yang sangat dihormati dalam Kekristenan. Setelah kematiannya, reputasi Santo Nikolas menyebar ke berbagai belahan dunia Kristen.
Reputasi Santo Nikolas memunculkan legenda tentang mukjizat yang ia lakukan untuk orang miskin. Ia dikabarkan telah memberikan hadiah berupa emas kepada tiga gadis yang jika tidak diberikan emas akan dipaksa jatuh dalam pelacuran karena kemiskinan. Santo Nikolas juga dikisahkan telah menghidupkan kembali tiga anak kecil yang telah mati dipotong-potong oleh seorang tukang daging dan dimasukkan ke dalam bak air garam. Santo Nikolas juga pernah dipenjara dan disiksa selama masa penganiayaan terhadap umat Kristen oleh Kaisar Romawi Diocletian tetapi dibebaskan di bawah pemerintahan Kaisar Konstantinus Agung. Ia dipercaya menghadiri Konsili Nicea pertama pada tahun 325, di mana ia diduga berdebat dengan pemimpin sekte Unitarian Arius.
Tradisi perayaan hari Santo Nikolas yang jatuh pada 6 Desember berkembang di Eropa, khususnya di Belanda dan Jerman. Dari sini, citra Santo Nikolas mulai