Profesor dari Unissula Semarang ini berpendapat perbedaan pemahaman kedaruratan itu rawan menjadi konflik jika ada yang menunggangi. Celakanya jika ada yang segera memviralkan dengan sisipan opini pribadi.
Namun lepas dari semua itu, dibutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap para aparatur pemegang senjata api. Evaluasi meliputi banyak hal.
Yang paling penting adalah monitoring kondisi psikologis pemegang senjata api itu.
"Harus diakui secara jujur, siapapun orangnya saat memegang senjata api, pasti rasa percaya dirinya akan meningkat. Nah bahayanya jika ia kemudian sedang ada masalah yang tak berhubungan dengan tugasnya. Disinilah titik rawan penyalahgunaan senjata api milik aparat tersebut," tandas Prof Henry.