Tentu, Presiden Prabowo dan Presiden Putin bekerja pada tingkat state-to-state dan government-to-government. Sedangkan Partai Golkar dan Partai Rusia Bersatu memperkuat komunikasi pada tingkat party-to-party.
Begitu juga, parlemen dapat memperkuat parliament-to-parliament diplomacy. Universitas dapat memperluas academic diplomacy. Dunia usaha dapat membuka business-to-business cooperation. Sementara itu, masyarakat kedua negara dapat memperkuat people-to-people relations.
Apabila seluruh jalur tersebut bergerak dalam kerangka kepentingan nasional yang sejalan, maka hubungan Indonesia–Rusia akan memiliki fondasi yang jauh lebih kokoh.
Golkar Mengawal, Bukan Mengambil Alih
Bagi saya, kata yang paling tepat dalam memandang relasi ini, Golkar lebih kepada posisi mengawal. Partai Golkar tidak mengambil alih diplomasi negara dan tidak pula membentuk politik luar negerinya sendiri.
Sebagai partai politik yang berada dalam pemerintahan, Golkar memiliki tanggung jawab politik untuk mendukung agenda pemerintah yang memberikan manfaat bagi kepentingan nasional.
Oleh karena itu, kerja Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar harus ditempatkan dalam kerangka tersebut: mengawal diplomasi Presiden Prabowo Subianto dan memperluas jaringan persahabatan Indonesia di dunia internasional.
Pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Putin menunjukkan bahwa hubungan Indonesia–Rusia memasuki ruang kerja sama yang semakin substantif. Pemerintah sendiri menyebut Rusia sebagai mitra penting dan strategis bagi Indonesia, sementara Indonesia dipandang sebagai salah satu mitra utama Rusia di kawasan Asia Pasifik, khususnya ASEAN. Inilah momentum yang harus diterjemahkan melalui diplomasi antarpartai.
Jika Presiden Prabowo membuka pintu besar bagi hubungan strategis Indonesia–Rusia, maka jalur-jalur diplomasi lainnya harus membantu memastikan bahwa pintu tersebut menghasilkan sebanyak mungkin peluang bagi kepentingan bangsa.
Bebas Aktif: Bersahabat Tanpa Kehilangan Kemandirian
Namun, dalam konteks ini, ada prinsip yang tidak boleh kita tinggalkan. Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif. Oleh karena itu, penguatan hubungan dengan Rusia tidak boleh dimaknai sebagai pilihan Indonesia untuk bergabung dengan blok geopolitik tertentu.
Indonesia dapat bersahabat dengan Rusia sekaligus membangun hubungan yang produktif dengan Amerika Serikat, Tiongkok, negara-negara Eropa, Jepang, Korea Selatan, India, negara-negara Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, dan seluruh negara sahabat.
Justru di situlah letak kekuatan Indonesia. Kita tidak perlu menjadi satelit bagi siapapun. Indonesia harus menjadi sahabat yang dapat dipercaya, mitra yang diperhitungkan, sekaligus bangsa yang memiliki keberanian untuk menentukan kepentingannya sendiri.
Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh konflik, rivalitas kekuatan besar, dan kompetisi geopolitik, kemampuan Indonesia untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak merupakan modal diplomatik yang sangat besar.
Indonesia tidak harus memilih antara Timur dan Barat
Dalam dinamika global yang seperti itu, Indonesia tidam harus memilih salah satu poros, tapi Indonesia harus memilih kepentingan nasional Indonesia.
Oleh karena itu, saya menyambut positif dan mengapresiasi semakin intensifnya hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin.
Pertemuan di Kremlin pada April 2026 menunjukkan keseriusan kedua negara. Presiden Prabowo menekankan bahwa komunikasi Indonesia–Rusia berkembang secara produktif dan saling menguntungkan, sementara kedua negara memperkuat implementasi kemitraan strategis yang telah dideklarasikan pada 2025.
Bagi Partai Golkar, perkembangan tersebut sekaligus membuka ruang yang semakin besar untuk menjadikan hubungan dengan Partai Rusia Bersatu lebih substantif.
Namun, kuncinya kita harus bergerak dari MoU menuju action. Dari komunikasi menuju implementasi. Dari party-to-party relationship menuju party-to-party strategic partnership yang memberikan kontribusi nyata bagi hubungan