26 September 2020
All The Golkar’s Men
  Muhammad Said
  07 September 2020
  • Share :
DPP Golkar menggelar rapat pleno membahas program kerja dan pilkada di kantor DPP Golkar, Jumat (7/2/2020) malam. (Foto: Akurat)

Oleh Antony Z Abidin

kabargolkar.com - Hampir seluruh Kepala Daerah yang diusung Partai Golkar pada Pilkada serentak 9 Desember 2020 adalah kader internal Golkar. All The Golkar’s Men. Apakah itu pertanda, pada Pilpres 2024 Golkar juga akan mengusung kader internalnya?

Katua Umum DPP Golkar Airlangga Hartarto menyebut angka 95% dari 270 pilkada, calon Bupati atau Wakilnya adalah orang Golkar.

Bahkan lebih dari itu, dari berbagai survei atau tercatat di sejumlah media sebagai tokoh yang mempersiapkan diri untuk ikut konstastasi pilkada itu, adalah sesama kader internal Gokar Sendiri.

Contoh, calon gubernur Jambi. Empat tokoh yang memiliki elektabilitas tertinggi adalah kader Golkar. Seorang Anggota DPRRI Fraksi Goklar (Hasan Basri Agus/HBA,) 1 Walikota (Fasha) dan 2 Bupati (Cek Endra dan Alharis). Akan tetapi, sekalipun elektabilitasnya paling tinggi, mantan Gubernur Jambi HBA tidak bersedia mencalonkan diri.

Dari 3 kader Golkar bakal calon itu, akahirnya yang terpilih hanyalah 1 calon Gubernur yang sudah mendaftarkan diri ke KPU Jambi (4/9), Cek Endra yang didukung Golkar dan PDIP. Namun, Alharis, Ketua Harian DPD Gokar Kabupaten Merangin, tetap maju diusung partai lain (PAN, PKB, PKS). Uniknya lagi, satu dari tiga calon Gubernur-nya adalah inkamben (Farori Umar), pernah menjadi Ketua Kosgoro Jambi dan Wakil Gubernur (2010-2015) yang diusung Golkar.

Realitas politik itu menegaskan, Golkar mengakar. Sangat berpotensi untuk meraih kembali kemenangan seperti yang pernah dicapainya pada pemilu 2004. Golkar yang ketika itu dikomandoi Akbar Tandjung, memperoleh suara tetinggi, 129 kursi di DPR-RI. Melampui PDIP yang anjlok. Menjadi 109, dari 159 kursi pada pemilu sebelumnya (1999).

Apa kurangnya PDIP pada pemilu 2004 itu? Wong Presiden RI adalah Ketua Umum PDIP, Megawati Sukarnno Putri, anak Proklamator dan Presiden pertama RI.

Lantas, apa hebatnya Golkar yang ketika itu banyak dihujat, dihadang massa lawan politik ketika kampanye? Kantor-kantor DPD Gokar dirusak, bahkan dibakar ludes seperti yang dialami kantor DPP Golkar Jawa Timur?

Kekuatannya ada pada kader, yang diantaranya menjadi tokoh dan pemimpin. Mereka merobah paradigma, membangun platform partai yang reformis. Terkonsolidasi melalui visi, missi dan program yang dapat dikatakan samasekali berbeda dengan era 32 tahun Golongan Karya menjadi partai bekuasa. Itulah Golkar Baru yang kompak, solid, terkonsoliasi. “Golkar Baru, Bersatu untuk Maju”.

Namun, mengapa setelah pemilu tahun 2004 terjadi kemerosotan? Dari 129 kursi turun 106 (2009), turun lagi jadi 91 (2014) dan terakhir 85 (2019).

Apakah karena Partai Golkar kekurangan kader? Tentu saja tidak. Buktinya bahkan Golkar surplus kader pada setiap Pilkada. Yang ditetapkan partai hanya satu calon gubernur, bupati atau walikota. Tetapi, seperti contoh kasus pilgub Jambi itu, kader yang mampu dan berminat lebih dari satu.

Apa yang kemudian terjadi? Kader Golkar itu didukung partai lain. Mereka melepas jaket kuningnya.

Bukan hanya pindah partai, bahkan sejak awal Golkar memasuki era reformasi, tak sedikit tokoh partai Golkar mendirikan partai baru. Mulai dari Edi Sudrajat dan terakhir Berkarya. Tidak aneh.

Hal yang bisa saja terjadi di semua partai pasca reformasi. Lihat saja PAN, Amin Rais, sang pendiri partai itu, hengkang dan mendirikan partai baru.

Dalam pengalaman Golkar, hengkang satu, tumbuh seribu. Karena itu program kaderisasi patut diyakini akan menjadikan Golkar jauh lebih terkonsolidasi, modern dan efektif.

Tambah lagi, jika Golkar Institut yang dicanangkan Ketum Golkar Airlangga Hartato sejak Munas Desember lalu, segera terwujud. Rekrutmen dan pendidikan politik. Untuk menghasilkan kader- kader calon pemimpin yang memiliki pengetahuan sosial, politik, ekonomi dan manajemen partai. Serta, tentunya: kemampuan leadership yang baik dan bermutu.

Maka, setelah 20 tahun perolehan kursi DPR-RI merosot, bukan mustahil siklus itu akan menanjak kembali ke atas. Apakah Golkar 4 tahun lagi, bakal punya capres dari kader internal?

Itu akan banyak tergantung kemampuan partai beringin ini mencapai angka presidential threshold. Tembus 20% dari kursi di parlemen. Paling tidak harus menambah 10 juta suara. Dengan kembali ke angka 129 kursi — seperti hasil pemilu 20 tahun lalu itu — Golkar akan dapat memastikan diri punya capres dari kader internal.

Apakah fenomena pilkada sekarang ini akan berlanjut pada pilpres nanti? Golkar akan punya capres sendiri, dari tokoh internal? Kita harapkan demikian.

*Anggota Dewan Kehormatan DPP Golkar

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.