Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
DAMPAK KECERDASAN ARTIFISIAL (ARTIFICIAL INTELLIGENCE) TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN DI INDONESIA
  Muzaki   05 November 2026
Alaudin Abas (Kepala Kantor PPID DPP Partai Golkar)
class="p1">Kini, sebagian fungsi pencarian pengetahuan tersebut mulai beralih ke ruang digital. AI mampu memberikan jawaban keagamaan secara cepat, praktis, dan personal. Seseorang dapat bertanya tentang hukum ibadah, persoalan keluarga, muamalah, hingga perbedaan pandangan keagamaan tanpa harus terlebih dahulu berinteraksi dengan guru agama. Secara sosial, kondisi ini melahirkan perubahan otoritas pengetahuan. Masyarakat berpotensi lebih mempercayai jawaban yang cepat, menarik, dan meyakinkan daripada proses pembelajaran yang membutuhkan kedalaman dan verifikasi.

Persoalannya, AI tidak selalu mampu membedakan perbedaan mazhab, konteks sosial, metodologi penafsiran, serta kedudukan suatu dalil secara tepat. Jawaban yang disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan belum tentu memiliki dasar keilmuan yang benar.

Penelitian Nuril Hidayah dan kolega dalam jurnal Esensia tahun 2026, berjudul Sacred Symbols, Synthetic Lies, menunjukkan bagaimana AI generatif dapat digunakan untuk menyimulasikan suara tokoh agama, menciptakan simbol keagamaan palsu, dan menghasilkan narasi yang mengganggu mekanisme pengenalan otoritas keagamaan.

Stressing point: AI berpotensi mengubah hubungan masyarakat dengan otoritas keagamaan. Tantangannya bukan sekadar menjaga agar masyarakat tidak salah memperoleh informasi agama, tetapi memastikan bahwa tradisi keilmuan, keteladanan ulama, dan tanggung jawab moral tetap menjadi fondasi keberagamaan.

Teknologi boleh menjadi sumber informasi, tetapi tidak boleh secara otomatis menjadi sumber legitimasi kebenaran agama.

2. AI Berpotensi Menjadi Instrumen Rekayasa Opini, Polarisasi Keagamaan, dan Konflik Sosial

Dalam teori Social Construction of Reality yang dikembangkan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, realitas sosial terbentuk melalui proses interaksi, komunikasi, dan internalisasi nilai. Sesuatu yang terus-menerus disampaikan dan diterima masyarakat dapat membentuk persepsi kolektif. AI mempercepat proses tersebut melalui kemampuan menghasilkan konten dalam jumlah besar, melakukan personalisasi pesan, dan menyebarkan informasi sesuai karakteristik audiens.

Dalam masyarakat yang memiliki sensitivitas identitas keagamaan, kemampuan ini dapat dimanfaatkan untuk membangun dukungan, menciptakan prasangka, atau memperbesar konflik antarkelompok. Misalnya, sebuah video rekayasa yang seolah-olah memperlihatkan tokoh agama menghina kelompok lain dapat memicu kemarahan publik. Potongan ceramah yang diubah konteksnya dapat membangun persepsi negatif. Bahkan, narasi yang menggunakan ayat, hadis, dan simbol agama dapat dimanipulasi untuk membenarkan kebencian terhadap kelompok tertentu.

Hal yang perlu diwaspadai adalah munculnya echo chamber, yaitu situasi ketika seseorang terus-menerus menerima informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri, sementara informasi yang berbeda semakin jarang dijumpai. Akibatnya, masyarakat tidak lagi melihat perbedaan sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan beragama, tetapi justru memandangnya sebagai ancaman.

Penelitian Sonni (2025) mengenai ekosistem media digital Indonesia mengidentifikasi tiga mekanisme utama penguatan disinformasi berbasis AI: otomatisasi produksi konten, personalisasi yang memperkuat ruang gema, dan manipulasi multimodal yang membuat informasi palsu tampak autentik.

Stressing point: Ancaman terbesar AI bukan hanya menyebarkan berita bohong, melainkan kemampuannya memproduksi dan memperbesar sentimen sosial secara sistematis. Jika agama dijadikan instrumen manipulasi identitas, dampaknya dapat meluas menjadi ketegangan sosial, intoleransi, bahkan ancaman terhadap persatuan bangsa.

 3. AI Mendorong Komersialisasi dan Industrialisasi Agama serta Mengubah Relasi Sosial Umat

Dalam perkembangan media digital, perhatian masyarakat telah menjadi komoditas ekonomi. Konten yang menghasilkan banyak penonton, interaksi, dan keterlibatan memiliki nilai komersial bagi kreator maupun platform. Kondisi ini juga memasuki ruang keagamaan. Ceramah, kajian, nasihat, dan simbol-simbol agama dapat diproduksi menjadi konten yang mengejar popularitas dan keuntungan ekonomi. AI semakin mempermudah proses tersebut. Seseorang dapat memproduksi ratusan video pendek bertema agama, membuat suara penceramah

Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.