" Jika kita belajar dari pengalaman krisis moneter tahun 1998 silam, kondisi saat ini sebenarnya sangat jauh berbeda dengan kondisi tahun 1998. Kemerosotan IHSG dan nilai tukar rupiah pada 1998 lebih disebabkan oleh aksi para spekulan dan ketidakstabilan politik di dalam negeri pada saat itu. Sementara saat ini, gejolak ekonomi yang terjadi lebih disebabkan oleh pandemi virus corona yang mengakibatkan pasar keuangan global mengalami kegoncangan dan kepanikan. Jadi, penyebab utama pelambatan ekonomi saat ini adalah pandemic corona, artinya ketika pandemi ini berakhir, maka perekonomian global akan cepat bangkit." Jelasnya
untuk menjaga stabilitas dan mendorong perekonomian nasional untuk menghadapi dampak wabah virus corona. Komisi XI DPR akan terus memantau dan mendorong pemerintah untuk mengantisipasi kondisi pasar, seperti misalnya melalui kebijakan stimulus fiskal dan non-fiskal.
" Meski demikian, kami di DPR akan terus memantau dan mendorong pemerintah untuk mengantisipasi kondisi pasar, seperti misalnya melalui kebijakan stimulus fiskal dan non-fiskal. Itu dilakukan dalam rangka memberikan kemudahan bagi perekonomian yang terkena dampak pendemi corona, dan diharapkan akan memberikan pengaruh positif bagi kegiatan perdagangan di pasar modal dalam negeri. jelasnya
Sebagai penutup, masih menurut Puteri Komarudin mengingatkan kepada semua pihak, termasuk para investor yang menarik modalnya dari pasar modal agar tidak usah khawatir berlebihan. Menurutnya, pemerintah tidak akan membiarkan hal buruk terjadi.
" Oleh karena itu, di tengah kondisi seperti ini, kami berharap para investor yang menarik modalnya dari pasar modal agar tidak terlalu khawatir secara berlebihan. Penting bagi para investor untuk tetap tenang agar dapat menentukan sikap dengan bijak dan cermat." Tutupnya.