Kabargolkar.com - Iklim investasi di Indonesia masih menjanjikan di tengah pandemi Covid-19. Namun, pertumbuhan ekonomi nasional untuk kuartal dua diprediksi akan lebih berat dibandingkan kuartal pertama 2020.
Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Septian Hario Seto mengatakan, sampai saat ini belum ada pembatalan komitmen investasi akibat pandemi Covid-19 di Indonesia.
Septian juga menambahkan, meski kondisi berat dialami seluruh dunia, namun pemerintah tetap optimistis menghadapi perlambatan ekonomi akibat pandemi.
Adapun Indonesia beruntung karena pasar domestiknya sangat besar. "Sehingga pertumbuhan ekonomi kita di kuartal pertama 2020 masih positif. Sementara di sejumlah negara, ekonominya justru negatif," ujar Septian saat memaparkan dalam wawancara di IDX Channel di Jakarta, Senin (15/6/2020).
Dari sisi investasi, Septian mengatakan, pemerintah akan fokus pada investasi yang bersifat strategis. Ini berarti investasi yang bisa memberi nilai tambah atas kekayaan alam Indonesia, menciptakan pemerataan pertumbuhan, dan menciptakan lapangan kerja.
Sementara itu anggota Komisi XI DPR RI Puteri Anetta Komarudin, menilai penguatan nilai tukar rupiah tidak terlepas dari sentimen kondisi pasar global dan domestik. Sehingga sinergi kebijakan fiskal dan moneter perlu terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Pasar merespon positif berbagai langkah pemulihan ekonomi Indonesia sehingga memicu masuknya portofolio investasi ke dalam instrumen SBN. Hal ini mendorong pasokan valuta asing (valas) yang menopang peningkatan cadangan devisa. Namun, BI juga harus terus memastikan intervensi moneter tetap dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan pasar agar rupiah tetap stabil,” ujar puteri seperti yang kami kutip dari laman Sindobisnis.
Puteri juga menilai bauran kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah perlu dijaga tetap seimbang terhadap upaya pemulihan ekonomi. Semua demi mendorong peningkatan daya saing ekonomi nasional di tengah penanganan pandemi Covid-19.
Dia menegaskan, koordinasi dan sinergi antara pemerintah, BI, OJK, dan LPS dalam upaya pemulihan ekonomi dan penguatan nilai tukar rupiah, harus terus terjaga dan dilaksanakan dalam koridor kehati-hatian atau tetap prudent, serta agar pelonggaran kebijakan moneter BI berjalan efektif.
"Selain itu juga harus diiringi dengan percepatan stimulus fiskal dan relaksasi kredit bagi sektor riil yang mulai beroperasi. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi sentimen positif dan menjaga kepercayaan investor,” ujar Puteri.