“Diversifikasi bukan berarti meninggalkan budaya. Justru melalui kreativitas dan inovasi, nilai budaya yang terkandung dalam tenun dapat terus hidup dan semakin relevan dengan perkembangan selera pasar saat ini,” ujar Budi.
Dalam pelatihan tersebut, sebanyak 10 IKM fesyen dipertemukan dengan 10 IKM tenun untuk mengembangkan berbagai produk berbasis tenun, mulai dari busana siap pakai, tas, aksesori, hingga alas kaki. Proses pendampingan dilakukan oleh tim instruktur dari Program Studi Desain Fesyen Universitas Ciputra Surabaya.
Menurut Budi, kolaborasi antara pelaku IKM tenun dan IKM fesyen menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem industri kreatif berbasis wastra nusantara. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghasilkan produk yang lebih inovatif, bernilai tambah tinggi, dan memiliki daya saing di pasar internasional.
“Kami berharap kolaborasi yang terbangun melalui kegiatan ini dapat terus berlanjut sehingga mampu meningkatkan daya saing IKM serta memperkuat rantai pasok industri fesyen dan tenun nasional,” tambahnya.
Apresiasi terhadap program ini juga disampaikan Ketua Dekranasda Kota Kediri, Faiqoh Azizah Mohamad Qowimuddin. Ia menilai dukungan Kemenperin terhadap pengembangan industri tenun ikat di Kediri menjadi langkah penting dalam menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan dan saling menguatkan antara pelaku IKM tenun dan fesyen.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Kediri, M. Ridwan. Menurutnya, kegiatan bimbingan teknis tersebut tidak hanya mendorong pengembangan industri tenun daerah, tetapi juga membuka peluang usaha baru sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja.
Melalui berbagai program pendampingan, pelatihan, dan penguatan kapasitas usaha, Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk terus mendorong transformasi industri tenun nasional agar semakin inovatif, kompetitif, dan mampu menjadi bagian penting dalam pengembangan industri fesyen Indonesia di tingkat global.
Naskah ini menggunakan gaya rilis media yang lebih ringkas, mengalir, dan siap dipublikasikan oleh media massa atau kanal humas tanpa mengubah kutipan langsung para narasumber.