[caption id="attachment_7441" align="aligncenter" width="375"]
Siti Hediyati Hariyadi atau Titiek Soeharto (kanan) bersama Tommy Soeharto (kiri) berkumpul di Partai Berkarya (Photo : ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)[/caption]
kabargolkar.com - Ketua Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Sumatera DPP Golkar Ahmad Doli Kurnia menekankan keluarnya Titiek tak akan terlalu berpengaruh terhadap Golkar. Ia menekankan, Golkar saat ini dan ke depan harus benar-benar mandiri. "Maju mundurnya Golkar akan ditentukan sendiri oleh pimpinan dan kader partai," jelas Doli.
Doli menyebut Partai Golkar sejak era Reformasi punya ciri dan tak bisa dikaitkan dengan stigma serta pengaruh masa lalu. Transformasi Golkar sebagai partai politik yang punya ciri khas harus terkonsolidasi secara utuh.
"Kami tetap menghargai sejarah yang tak bisa kami pungkiri. Tapi, Golkar
must go on, menatap masa depan politik, demokrasi, dan Indonesia yang lebih baik," ujar Doli.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional Median, Rico Marbun menyebut keluarnya Titiek berpeluang menggerus suara Golkar. Ia menilai keluarnya Titiek bertepatan dengan momentum transisi pergantian kepemimpinan Golkar. "Jelas keluarnya Titiek berpeluang menggerus suara Golkar," kata Rico, Selasa, (12/6/2018).
Dia menganalisis pasca keluarnya tokoh-tokoh Golkar dengan membentuk partai sendiri, suara Golkar belum pulih. Hal ini merujuk hasil Pemilu Legislatif 2009 dan 2014, Golkar tersisih di posisi dua. Ia menyebut keluarnya Wiranto dengan membentuk Hanura, kemudian Prabowo Subianto mendirikan Gerindra, lalu Tommy Soeharto dengan Nasrep berpengaruh terhadap suara Golkar.
"Munculnya partai sempalan dari mantan tokoh, suara Golkar sampai sekarang belum benar-benar pulih lagi," ujar Rico.
Keputusan mundur dari Golkar harus membuat Titiek merelakan statusnya sebagai anggota DPR. Titiek lolos sebagai anggota DPR periode 2014-2019, dari daerah pemilihan Yogyakarta. Ia saat itu meraih suara tertinggi dengan menyisihkan
incumbent yang juga Ketua DPD Golkar Yogya, Gandung Pardiman.
Meski terhitung baru sebagai anggota DPR, Titiek pernah masuk bursa ketua umum dalam Munaslub Golkar, akhir 2017 lalu. Saat itu, Titiek memilih mundur sehingga Airlangga Hartarto melenggang mulus menjadi Ketum Golkar secara aklamasi. Titiek juga pernah menjabat Wakil Ketua Umum Golkar era kepemimpinan Aburizal Bakrie dan Setya Novanto.
[caption id="" align="aligncenter" width="222"]
Foto: Putra bungsu sekaligus pendiri Berkarya, Tommy Soeharto[/caption]
Â
Berkah Berkarya
Rico melihat kepindahan Titiek ini justru memberikan keuntungan bagi Berkarya. Ia melihat pergerakan partai besutan Tommy ini serius ingin menembus parlemen pada 2019.
Selain ada sejumlah nama tokoh senior di internal partai, ada mantan politikus Golkar seperti Priyo Budi Santoso yang diplot sebagai Sekretaris Jenderal DPP Berkarya. Belum lagi ada kabar putri sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana juga akan merapat ke Berkarya.
"Berkarya serius. Tommy tak ingin kegagalan Pemilu 2014 terulang," sebut Rico.
Manuver Berkarya dengan mengandalkan trah Soeharto tak salah. Sebab sejumlah partai ada masing-masing trahnya. Ia menyebut PDIP ada trah Soekarno