Foto Instagram[/caption]
KabarGolkar.com - Guna mengatasi kerugian akibat pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN/Persero) harus mengelola keuangan dengan baik.
Rugi kurs dinilai tidak berdampak pada arus kas secara langsung. Oleh karena itu pengelolaan keuangan yang baik dapat menjadi solusi mengatasi kurs saat ini.
Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI Dwie Aroem Hadiatie (F-PG) mempertanyakan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap proyek pembangkit listrik 35.000 mw PLN, karena terdapat 15.200 mw yang tertunda. Saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Sekretaris Kementerian BUMN, Dirut PT. PLN, dan Dirut Hutama Karya di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (5/9).
“Dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap proyek pembangkit listrik 35.000 mw seperti yang dilansir media terdapat 15.200 mw yang tertunda, apakah ini terkait dengan Penyertaan Modal Negara (PMN),” tanya politisi dapil Lampung itu.
Seperti yang diketahui PT. PLN (Persero) terus mengembangkan listrik pedesaan dengan melistriki desa baru maupun desa lama yang sebagian dari dusunnya belum berlistrik. Ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah untuk mencapai Rasio Desa Berlistrik (RD) 100 persen pada tahun 2018 ini.
BUMN listrik ini menganggarkan biaya investasi Rp15,9 triliun untuk membangun infrastruktur ketenagalistrikan bagi 739.329 pelanggan di wilayah desa tahun ini. Anggaran tersebut naik dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, yang sebesar Rp6,2 triliun untuk 498.660 pelanggan di desa.
Â