Amir Moertono, Teman Seperjuangan Soeharto Di Zaman Revolusi Yang Jadi Ketua Golkar
[caption id="attachment_25708" align="aligncenter" width="640"]
AMPG dengan latar para mantan ketua Golkar (Photo/Merdeka.com)[/caption]
Kabargolkar.com - Di zaman Revolusi, rumah Soeharto nan besar tapi masih sepi di Yogyakarta kedatangan pasangan suami-istri dari luar kota. Hari belum sore, Soeharto selaku tuan rumah belum pulang. Di rumah itu hanya ada Probosutedjo yang masih SD. Setelah memperkenalkan diri pada Probo, si suami bertanya, “Ini rumah siapa?” Probo menjawab, “Rumah kakak saya.”
“Apakah kami boleh tinggal menumpang di garasi? Kami tak punya rumah di Yogyakarta,” tanya si tamu laki-laki. Probo tanpa pikir panjang dengan polosnya malah bilang, “Lho, kenapa di garasi, tinggal saja di kamar dalam. Masih ada tiga kamar kosong, kok.”
Pasutri itu senang. Mereka bisa beristirahat di kamar besar. Sorenya Soeharto pulang. Probo tentu ditanyai, “Itu siapa?” Probo menjawab, “Namanya Amir Moertono. Mereka nggak punya rumah, jadi saya suruh tinggal di sini.”
Soeharto hanya bisa kerutkan kening dan mengingatkan Probo untuk berhati-hati menerima orang lain. Beruntunglah Probo, karena Amir juga perwira seperti Soeharto dan cepat akrab pula. Begitulah cerita Probosutedjo tentang Amir Moertono, Soeharto dan dirinya seperti diakuinya dalam memoar Saya dan Mas Harto (2013: 97-98).
Sepengakuan Soeharto dalam Pikiran Ucapan dan Tindakan Saya (1989: 57), Amir Moertono adalah anak buahnya dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta. Kala itu pangkat Amir masih letnan. Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD (1988: 209), laki-laki kelahiran Kertosono, 7 Juli 1924 yang pernah sekolah di HBS dan SMT ini sempat jadi komandan kompi dalam Divisi III di Surabaya pada 1945. Amir juga pernah ditempatkan sebagai bawahan Soeharto di Batalyon X Yogyakarta.
Waktu kampanye pembebasan Irian Barat tahun 1960-an, Amir juga satu rangkaian dengan Soeharto. Soeharto sebagai Panglima Operasi Mandala Pembebasan Irian Barat (Trikora), sementara Amir Moertono menjadi Ketua Seksi Aksi Pengerahan Massa di Front Nasional Pembebasan Irian Barat.
Piawai Mengorganisasi Massa
Sebelum beraksi di Irian Barat, dia sempat belajar di Political Intelligence Course di Honolulu, Hawaii pada 1959. Sebelum itu dia belajar di Akademi Hukum Militer (AHM). Dia ahli hukum militer yang paham soal politik, sosial, dan ekonomi masyarakat.
Pada 1956, setelah Indonesia membatalkan isi KMB 1949 dan mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda, seperti ditulis Bambang Sulistyo dalam Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa (2013: 164), pihak militer mendirikan Badan Kerja Sama Buruh Militer (BKS Bumil) yang beranggota SOBSI, KBKI, SBII, HISSBI, SOBRI, dan GOBSI-Indonesia.
BKS Bumil semula diketuai Mayor Harapan, namun kemudian digantikan Letnan Kolonel Amir Moertono. Seperti dicatat David Reeve dalam Golkar: Sejarah Yang Hilang (2013: 194), Amir kemudian terlibat pula dalam Badan Pembina Potensi Karya (BPPK) untuk urusan materil.
Setelah Soeharto makin kuat sejak 1966, di Departemen Pertahanan Amir sempat menjadi Wakil Direktur Strategi Sosial Ekonomi, lalu Direktur Kekaryaan/Sosial Politik, lalu Asisten Pembinaan Sosial Politik hingga 1974