Oleh: Denny JA
Kabargolkar.com - Sebuah revolusi diam diam terjadi dalam politik
di Indonesia. Waktunya: Maret 2005.
Saat itu politik Indonesia berubah dan sulit untuk kembali lagi. Dimulailah era politik pemilu, persaingan untuk menjadi presiden, gubernur, walikota, bupati, anggota DPR, dibimbing oleh hasil riset dan data.
Sebelumnya, pertarungan politik dipimpin oleh para ideolog partai. Strategi dibuat berdasarkan pengalaman, instink, firasat. Sejak Maret 2005, politik praktis dikawinkan dengan ilmu pengetahuan. Para ideolog partai mulai memberi tempat kepada peneliti dan profesional marketing politik.
Pertama kali dalam sejarah Indonesia, sebuah partai politik menanda tangani kerjasama, dengan lembaga survei, untuk memetakan dan memilih calon gubernur serta bupati, di 200 wilayah Indonesia.
Ketua umum Golkar saat itu Jusuf Kalla. Diwakili oleh Andi Matalata dan Ruly Azwar Anas, Golkar menanda tangani kerja sama dengan Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA), yang diwakili penulis sendiri.
Setelah maret 2005, hingga kini, tradisi partai politik menggunakan lembaga survei terus berlanjut.
Bagaimanakah awal perkaranya? Apa yang membuat partai politik itu, Golkar, dan LIngkaran Survei Indonesia membuat sejarah? Jawabnya adalah Profiling: ilmu tentang segmentasi pemilih.
Dua peristiwa mempengaruhinya.
-000-
Peristiwa pertama: Pemilu legislatif 2004.
Serangan kepada Golkar sangat bertubi. Kala itu Indonesia baru 6 tahun lepas dari Orde Baru. Suharto baru jatuh. Golkar selalu diidentikkan dengan Orde Baru dan Suharto.
Pada pemilu pertama setelah tumbangnya Orde Baru, tahun 1999, pertama kali pula Golkar dikalahkan. Perolehannya merosot hingga 22 persen.
Padahal selama pemilu Orde Baru, perolehan Golkar selalu di atas 60 persen. Pertama kalinya, di tahun 1999, partai lain yang juara, PDIP.
Memasuki pemilu 2004, kampanye anti Golkar tetap kencang. Isu utamanya: jangan pilih politisi busuk. Deklarasi anti politisi busuk, politisi yang korup dan melanggar HAM dideklarasikan. Dalam list 61 politisi busuk, Golkar paling banyak. (1)
Kala itu, penulis sudah berulang membuat survei nasional memetakan posisi partai politik. Penulis meminta waktu bertandang ke rumah Akbar Tanjung pertemuan empat mata saja.
Kepada Akbar Tanjung, ketua umum Golkar saat itu, penulis yakinkan. Golkar akan menjadi nomor satu kembali. Golkar kembali ke khittahnya menjadi partai juara.
Akbar Tanjung kaget. Ia bertanya bagaimana penulis yakin soal itu? Penulis jelaskan. Peta dukungan pemilih bisa dibaca melalui ilmu pengetahuan. Nama ilmunya survei opini publik. Di luar negeri, akurasi prediksi survei opini publik terbukti berkali kali.
Ujar Akbar Tanjung lagi, tapi bukankah ini era reformasi? Baru 6 tahun Orde Baru tumbang? Golkar diidentikkan dengan Orde Baru. Buktinya, pemilu tahun 1999, Golkar merosot dari 70,2 persen (pemilu 1997) hanya menjadi 22 persen (pemilu 1999)?
Akbar Tanjung tetap kritis. Sentimen anti Golkar masih tinggi ujar Akbar Tanjung lagi. Itu lihat kampanye anti politikus busuk oleh LSM. Kembali Golkar nomor satu paling banyak politikus busuk.
Penulis menunjukkan data survei nasional. Penulis sampaikan satu prinsip dalam marketing politik. Profiling. Yaitu ilmu memilah seluruh populasi pemilih ke dalam aneka segmentasi.
Penulis katakan, yang anti Golkar hanya pemilih terpelajar. Itu pemilih yang pendidikannya mahasiswa ke atas