Oleh: Bambang Soesatyo*
kabargolkar.com, JAKARTA - DI tengah kelelahan psikis begitu banyak
orang akibat berlarut-larutnya pandemi virus Corona SARS-CoV-2, semua elemen masyarakat di semua daerah kembali didorong untuk mengantisipasi dan mewaspadai potensi gelombang ketiga penularan COVID-19, akibat merebaknya varian Omicron di dalam negeri.
Mau tak mau, masyarakat harus berupaya maksimal untuk terhindar dari potensi terinfeksi varian Omicron. Selain karena varian ini sudah mewabah di beberapa kota, ada faktor lain yang patut digarisbawahi semua orang. Faktor itu adalah menurunnya efektivitas vaksin di dalam tubuh, kendati telah menerima vaksinasi dosis penuh (dua kali suntik vaksin). Artinya, kendati sebagian besar populasi pada 100 kabupaten/kota dilaporkan sudah memiliki antibodi, merebaknya varian Omicron menjadi bukti bahwa krisis kesehatan sekarang ini belum berakhir, dan karenanya jangan lengah atau ceroboh.
Memang, menghadapi dan menyikapi pandemi saat ini terasa mulai membosankan dan melelahkan. Memasuki pekan kedua Januari 2022, ragam informasi yang mengemuka di ruang publik tidak membuat nyaman semua orang. Selain informasi tentang menurunnya efektivitas vaksin di dalam tubuh, muncul pula perkiraan tentang potensi terjadinya puncak gelombang ketiga penularan COVID-19 pada periode Februari - Maret 2022.
Sebelumnya, informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga membuat semua orang tidak nyaman. Menurut WHO, varian Omicron mampu mengindari kekebalan. Enam penelitian terbaru menyajikan bukti tentang terjadinya penurunan efektivitas vaksin terhadap varian Omicron. Artinya, kendati seseorang sudah menerima vaksinasi dosis penuh, dia belum tentu kebal dari kemungkinan terinfeksi varian Omicron.
Mengacu pada sebuah studi meta analisis dan analisis regresi pada 2021, ditemukan indikasi penurunan efektivitas empat (4) vaksin yang sudah mendapatkan izin penggunaan darurat atau EUL (Emergency Use Listing) dari WHO. Studi itu melaporkan bahwa penurunan aktivitas vaksin mencapai 8 persen dalam kurun waktu enam bulan terakhir pada semua kelompok usia. Dalam rentang waktu tersebut, penurunan efektivitas vaksin sebesar 10 persen dan 32 persen terjadi pada orang dengan usia 50 tahun ke atas.
Maka, semua orang pun tetap diminta mewaspadai varian Omicron. Fakta tentang penularan Omicron otomatis memperpanjang durasi pandemi. Tekanan psikologis bagi masyarakat pun kembali tereskalasi pada Sabtu (15/1), ketika laporan dan data resmi menyebutkan bahwa kasus harian COVID-19 pada hari itu mencapai 1.054 kasus baru.
Data terbaru itu pasti mengecewakan banyak orang. Sebab, data itu memberi gambaran tentang perkembangan pandemi yang bukannya semakin membaik dan kondusif, melainkan bergerak kembali ke situasi pada Oktober 2021, saat rata-rata kasus baru COVID-19 per harinya berada di kisaran 1.000-an kasus. Padahal menjelang akhir tahun 2021, perkembangannya sudah sangat menjanjikan. Per 26 Desember 2021 misalnya, Indonesia pernah mencatat hanya 92 kasus baru.
Sangat disayangkan karena kecenderungan positif itu tak berlangsung lama