Sebagaimana diungkap Kementerian Kesehatan, penularan Omicron akan mencapai puncaknya 35 hingga 65 hari setelah kasus pertama terdeteksi. Mengacu pada perhitungan itu, gelombang tiga penularan COVID-19 di dalam negeri diperkirakan terjadi pada periode Februari-Maret 2022.
Berdasarkan data dan kecenderungan tadi, semua orang masih harus menerima kenyataan bahwa dinamika kehidupan bersama tetap masih harus mengacu pada ancaman penularan virus corona dengan segala varian-nya. Artinya, tetap beradaptasi dengan protokol kesehatan (Prokes) di masa pandemi.
Sudah hampir dua tahun ini semua elemen masyarakat harus mewaspadai ancaman COVID-19. Dan, selama rentang waktu itu, hampir setiap hari semua orang berbicara tentang ancaman itu. Gelisah, cemas dan trauma menjadi bagian tak terpisah dalam hidup keseharian. Sudah barang tentu Kelelahan psikis tak terhindarkan.
Pertanyaan tentang kapan teror COVID-19 ini akan berakhir sering dikemukakan banyak orang. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pernah melakukan survei tentang perkembangan kesehatan jiwa masyarakat sebagai dampak dari pandemi COVID-19.
PDSKJI memeriksa tiga masalah psikologis, yaitu aspek kecemasan, depresi, dan trauma psikologis. Hasilnya, sekitar 68 persen responden mengaku cemas, 67 persen depresi, dan 77 persen mengalami trauma psikologis.
Semoga saja Omicron menjadi varian terakhir dari wabah virus Corona. Kendati lelah dan membosankan, semua orang disarankan agar tetap waspada dan mematuhi Prokes demi terjaganya kesehatan semua anggota keluarga masing-masing.
Jika saja puncak gelombang ketiga penularan COVID-19 benar-benar terjadi pada periode Februari-Maret 2022 nanti, tak perlu panik karena masyarakat di semua daerah sudah punya pengalaman menghadapi dan menangani situasi COVID-19 paling sulit yang terjadi pada periode Juni-Juli-Agustus 2021.
Lebih dari itu, bisa dikatakan bahwa daya tahan masyarakat Indonesia lebih mumpuni berkat vaksinasi yang merata pada semua kelompok usia. Menurut Satgas pengendalian COVID-19, hasil survei pada 100 kabupaten/kota di Indonesia mengindikasikan bahwa sebagian besar populasi sudah memiliki antibodi. Hasil survei itu menemukan bahwa 86,6 Persen populasi yang daerahnya disurvei telah memiliki antibodi SARS-CoV-2 .
Pemerintah telah mengambil inisiatif untuk meningkatkan daya tahan masyarakat dari ancaman COVID-19, dengan vaksinasi dosis ketiga atau booster. Inisiatif ini telah diumumkan Presiden Joko WIdodo belum lama ini. Program vaksinasi Covid-19 booster telah dimulai pada Rabu (12/1). Syarat penerima vaksin dosis ketiga adalah sudah disuntik vaksin dosis kedua lebih dari enam bulan.
Agar daya tahan masyarakat semakin mumpuni dari ancaman COVID-19, semua orang diharapkan antusias menerima vaksinasi booster itu.*
----------
*Ketua MPR RI/Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar/Kandidat Doktor Ilmu Hukum UNPAD/Dosen Fakultas Hukum. ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka