Jakarta — Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ranny Fahd Arafiq, mendukung langkah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI dalam penerapan pelabelan gizi di bagian depan kemasan atau Nutri-Level. Menurutnya, informasi kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) yang lebih mudah dipahami masyarakat penting untuk membantu orang tua memilih makanan dan minuman yang lebih sehat bagi anak.
Melalui sistem Nutri-Level, kandungan gizi pada pangan olahan dan minuman dikategorikan ke dalam empat tingkat, yakni A, B, C, dan D. Informasi tersebut ditampilkan pada bagian depan kemasan sehingga konsumen dapat melihat gambaran kandungan gizi produk secara lebih cepat sebelum membeli atau mengonsumsinya.
Ranny menilai kebijakan tersebut relevan dengan meningkatnya perhatian terhadap pola konsumsi anak, terutama tingginya konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula. Data yang dikutip Universitas Airlangga dari catatan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan kasus diabetes pada anak mengalami peningkatan hingga 70 kali lipat sejak 2010. Sementara itu, Kementerian Keuangan juga menyoroti tingginya konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan sebagai salah satu persoalan yang berkaitan dengan risiko diabetes dan gangguan metabolik.
“Orang tua sering kali harus membaca cukup banyak informasi di bagian belakang kemasan untuk mengetahui kandungan gula dan zat gizi lainnya. Dengan adanya informasi di bagian depan, pilihan menjadi lebih sederhana. Kita bisa melihat sejak awal apakah sebuah produk sebaiknya dibatasi atau masih cukup aman dikonsumsi,” ujar Ranny.
Menurutnya, penerapan Nutri-Level juga perlu diikuti dengan edukasi yang konsisten agar masyarakat tidak hanya mengenal labelnya, tetapi memahami arti setiap kategori dan menggunakannya sebagai pertimbangan sebelum membeli produk pangan olahan.
Ia juga mendorong BPOM untuk memastikan penerapan pelabelan berjalan sesuai ketentuan dan mudah ditemukan oleh konsumen. Pada saat yang sama, industri pangan perlu memberikan informasi yang jelas dan tidak menyesatkan agar masyarakat dapat membuat keputusan berdasarkan informasi yang tersedia pada kemasan.
“Kita harus membanun kebiasaan memilih makanan yang lebih baik. Anak-anak perlu dibiasakan sejak dini dengan pola konsumsi yang sehat, sementara orang tua harus mendapatkan informasi yang sederhana dan mudah dipahami,” katanya.
Ranny berharap penerapan Nutri-Level dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan penyakit tidak menular sejak usia dini. Menurutnya, pencegahan melalui pilihan makanan dan minuman sehari-hari jauh lebih baik daripada menunggu persoalan kesehatan muncul ketika anak sudah tumbuh dewasa.
“Kalau kita ingin anak-anak kita tumbuh sehat, maka pilihan makanan dan minuman mereka juga harus kita perhatikan. Pemerintah, industri, sekolah, dan keluarga punya peran masing-masing. Yang paling penting, informasi kesehatanmudah dofahami oleh masyarakat dan benar-benar membantu mereka mengambil keputusan,” pungkas Ranny.