isu di masyarakat yang mengatakan bahwa ; keberhasilan anda tak bisa dipisahkan dari pengaruh orang tua, gampangnya, anda wajar saja bisa berhasil, karena anda didukung berbagai fasilitas yang memudahkan. Dalam study pun demikian, anda tergambar sebagai anak seorang pejabat dengan segala kemudahan fasilitas. Apa benar demikian?
– Ha ha ha, waduh, ini sepertinya agak panjang untuk menjawabnya, tetapi hal ini penting untuk saya uraikan agar tak menjadi salah persepsi berkepanjangan. Mungkin perlu di ingat, saya selalu dikatakan sebagai cagub muda, tapi sebenarnya tidak muda..muda sekali kok, usia saya saat ini menginjak 47 tahun, usia yang cukup.
Awal kali saya keluar negeri adalah saat saya menerima beasiswa dari Depdikbud RI , Program Pertukaran Pemuda ke Canada, saat itu saya masih di bangku SMA, nol biaya loh.
Mengawali kuliah diluar negeri itu, kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu, dan ayah saya tentunya masih belum sebagai pejabat, beliau juga masih merintis karir di pemerintahan.
Untuk meringankan biaya hidup tentunya saya bekerja paruh waktu, terkadang saya membantu di resto-resto setempat, mengantar koran, dan saya pernah dalam waktu yang cukup lama menjadi cleaning servis di apartemen dan banyak lagi lah pekerjaan paruh waktu yang bisa kita kerjakan, hasilnya bagus kok.
Jadi tentunya bisa anda simpulkan, sangat tidak mungkin jika hanya mengandalkan uang kiriman, bisa bisa jebol saku baju juga celana, he he. Sehingga rasanya tidak benar jika ada anggapan yang mengatakan demikian.
Saya sedikit sambungkan dengan jawaban di atas akan pentingnya menyeimbangkan motivasi internal dan exsternal. Alhamdulilah pak Alex mendidik saya dengan kemandirian karena untuk study di luar negeri itu butuh tekad yang kuat dari dalam diri, bukan hanya perkara fasilitas .
Satu contoh sederhana saja, jika di Palembang kita mudah menemukan makanan enak di setiap tempat, di luar negeri makanan terasa hambar bagi lidah kita. Belum lagi menyangkut Akademik Report yang lebih banyak, dan pola study yang menuntut kemandirian, sehingga amat dibutuhkan kecermatan dan fokus pada tujuan. Apalagi dalam situasi saat itu yang mengharuskan saya untuk bekerja paruh waktu agar mengahasilkan uang untuk meringankan biaya hidup. Alhamdulilah dengan menyeimbangkan kedua motivasi tadi, juga ikhtiar dan doa, semua mampu saya lewati dengan baik.
Saya berhasil lulus sebagai sarjana ekonomi di Belgia dengan predikat Grende Distinction atau High Honor dan Skripsi saya pun meraih Banque Bruxelles Lambert Prize Award sebagai karya skripsi ter baik se Belgia. Pada jenjang S2 saya lulus dengan predikat Magna Cumlaude dan percayalah, tidak mudah untuk melaluinya, butuh perjuangan untuk dapat meraih itu semua.
– Lalu apa yang mendorong anda untuk terjun meniti karier di Politik?
– Saya akan jawab dengan singkat saja ; Pengabdian. Puncak dari cita cita saya adalah bagaimana saya dapat menyumbangkan ilmu, fikiran, tenaga dan diri saya agar bermanfaat bagi masyarakat banyak khususnya masyarakat Sumsel saat ini . Saya rasa demikian. [
Sumber]