Sebelumnya, sempat diasumsikan bahwa berkat perkembangan ilmu farmasi dan ilmu kedokteran era terkini, durasi Pandemi Covid-19 bisa lebih pendek dibanding pandemi global di masa lalu. Ternyata, krisis kesehatan global sekarang ini sudah memasuki tahun kedua. Bandingkan dengan pandemi Flu Spanyol yang berdurasi dua tahun lebih (Februari 1918 – April 1920).
Digambarkan sebagai pandemi paling mematikan dalam sejarah umat manusia, para sejarawan mencatat bahwa flu Spanyol mewabah ketika ilmu farmasi dan kedokteran belum memiliki alat atau infrastruktur untuk mengembangkan vaksin. Mikroskop pada era itu bahkan belum dapat mendeteksi virus.
Pada krisis kesehatan global sekarang ini, mutasi virus SARS-CoV-2 terbukti tak bisa dicegah oleh teknologi terkini di bidang farmasi dan kedokteran. Untuk menghentikan penularan dan mutasi virus, kekuatan dan andalan utamanya masih tetap pada kesadaran semua orang untuk menggunakan akal budi masing-masing, utamanya dengan mematuhi Prokes di masa pandemi. Karena itu, siapa pun jangan pernah berperilaku tidak peduli Prokes.
Indonesia saat ini sedang mengalami lonjakan kasus baru Covid-19 karena banyak orang lengah dan tidak peduli Prokes. Masih banyak orang yang tidak menggunakan akal budinya untuk bersungguh-sungguh menghindar dari ancaman penularan Covid-19. Tak hanya Indonesia, sejumlah negara di Eropa pun akan mengalami lonjakan kasus baru, karena kerumunan puluhan ribu orang dalam setiap pertandingan sepak bola Euro 2020. Usai pertandingan Inggris melawan Skotlandia misalnya, ditemukan lebih dari 2.000 orang terpapar Covid-19.
Seperti juga durasi pandemi global di masa lalu, durasi pandemi Covid-19 sekarang pun ditentukan oleh perilaku masyarakat. Semakin patuh masyarakat melindungi diri dengan kepatuhan pada Prokes, pandemi Covid-19 akan lebih cepat berakhir.
Sebaliknya, ketika semua orang yang berakal budi tidak realistis menyikapi krisis kesehatan sekarang ini, durasi pandemi Covid-19 akan berlarut-larut. Akibat lalai pada Prokes dalam pelaksanaan Euro 2020 misalnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai cemas karena ada potensi Eropa akan mengalami gelombang III pandemi Covid-19.
Pada Jumat (02/07) kemarin, sejumlah media melaporkan adanya penumpukan jenazah di RSUD dr Sutomo, Surabaya. Sangat memilukan. Berita foto yang viral itu pun dibenarkan oleh Direktur RSUD Sutomo.
Dijelaskan bahwa pada Kamis (01/07), terdata 27 pasien Covid-19 meninggal dunia di rumah sakit itu. Berita foto ini menjelaskan banyak aspek tentang beragam akibat dari krisis kesehatan sekarang ini.
Mari, gunakan akal budi kita untuk mematuhi Prokes agar tidak tertular Covid-19.